Méridien de Paris

Biasanya aku mengaitkan sebuah kota dengan sebuah buku, sepotong musik, atau seorang tokoh. Tapi kota Paris punya sejarah panjang dan cerita yang kompleks. Beberapa kunjungan sebelumnya aku kaitkan dengan para filsuf, para ilmuwan, para penulis. Kali ini, aku mengambil tema seorang tokoh bernama François Arago. Arago adalah seorang matematikawan, fisikawan, astronom, dan politisi Perancis. Di sekitar masa revolusi Perancis, ia bahkan sempat beberapa bulan menjadi semacam Perdana Menteri Perancis. Dalam bidang fisika, ia menjadi kontroversi saat mendukung teori cahaya sebagai gelombang. Permainannya yang lain adalah mencari kaitan benda bermuatan yang berputar terhadap logam magnetik. Tapi, di atas semua itu, ia paling dikenal sebagai Direktur Observatorium Paris....

Nihonjin

Nihonjin

Tulisan yang terlambat beberapa tahun. Tapi rasanya masih punya hutang kalau belum ditulis di sini. Plus nantinya beberapa versi buat negara lain. Jadi, ini kesan atas orang-orang di Jepang, dalam amatan bulan Juni 2011. Imigrasi Haneda Petugas imigrasi (cowok, usia sedang) benar-benar memeriksa di hotel mana aku akan menginap malam itu. Waktu itu, hampir tengah malam. Dan aku memutuskan menunggu Shinkanzen pagi di airport. Petugas menunjukkan ketidaksukaannya bahwa aku tidak mereservasi hotel buat tidur malam itu. Mungkin dia merasa aneh ada orang mau membuang 6 jam sia-sia di airport. Douane Haneda Petugas (cewek, usia sedang) menanyakan tujuan kunjungan. Aku sampaikan, aku akan menghadiri summit. Dia lihat jaket travelingku dan koper kecilku. Sopan, dia minta...

Berlin

Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15. Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya...

UEFA Euro 2012

UEFA Euro 2012

Wow! Ternyata, dari 5 negara yang kami kunjungi dalam sesi Europe 2012, empat di antaranya masuk Perempat Final dalam UEFA Euro 2012! Kejutan memang terjadi pada Ceska, yang sempat kalah 1-4 dari Russia di awal kompetisi; tapi ia cepat mengejar ketinggalan dengan mengalahkan Polandia, sementara Russia justru kalah melawan Yunani. Satu negara lagi, Austria, malah tidak lolos kualifikasi untuk Euro 2012. Well, on ne peut pas bon en tout. Tapi, kata taxi driver di Wina sendiri: “Rakyat kami memang lebih suka musik dan menyanyi daripada sepakbola.” Wkwkwk. Masa...

Bayreuth

Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst. Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2...

Wien

Wien

Dari pesawat Vuelling, aku bisa menikmati pemandangan pegunungan Alpen yang puncak dan lerengnya masih dipenuhi garis-garis salju di akhir musim semi ini. Namun tak lama pesawat mulai merendah, dan pemandangan berubah menjadi padang2 dan ladang hijau yang luas, diselingi kota2 dan desa2 kecil. Lalu pesawat mendarat di Flughafen Wien — Bandara Wina. Wien, Vienna, Vienne, atau biarlah kutulis versi Indonesianya: Wina. Ibukota Austria ini ada di timur laut negara; berada tak jauh dari kota Bratislava yang merupakan ibukota Slovenska. Mendarat di sini, aku berharap mudah2an orang Austria mau berbahasa Inggris. Aku nggak bisa bahasa Jerman sepicing pun :D. Tapi harapanku terlaksana. Maklumat di Wina ditulis atau dilantunkan dwibahasa, dan nyaris semua warga...

Praha

Praha

Kereta api dari dan ke Praha secara unik dinamai menurut para seniman dan komposer. Kereta dari Wina ke Praha pukul 14:33 itu berjudul Smetana. Serasa jadi mendengar simfoni Ma Vlast dari Bedrich Smetana yang mengantar ke Sungai Vltava. Melintas perbatasan, kereta memasuki kota Breclav, Brno, Ceska Trebova, lalu berbelok ke barat, melintasi ladang di samping bukit yang berkelok — seragam tapi tak membosankan. Akhirnya masuk ke kota Praha. Konon di bagian baru kota Praha, banyak orang2 usil. Tapi orang usil tak kurang banyak di Jakarta. Jadi buat kita tentu ini bukan masalah. Pertama, aku tidak menukarkan Euro sisa Austria ke Korun; tapi alih2 langsung ambil uang Korun (Kc atau CZK) di ATM. Kedua, aku bawa daftar taksi yang terpercaya. Tapi sayangnya...