Manado dan Minahasa

Salah satu tempat yang aku sangat ingin kunjungi adalah Sulawesi Utara. Manado dan Minahasa. Jadi cukup menarik bahwa mendadak di bulan Desember ini aku dapat tugas untuk berangkat ke Kabupaten Minahasa Selatan di Provinsi Sulawesi Utara. Provinsi Sulawesi Utara terletak di semenanjung Minahasa yang bergeografis unik: tempat ini bagian dari kerutan Lingkar Pasifik, tempat gunung dan perbukitan yang tinggi langsung bersua dengan pantai2 berkarang. Persiapan perjalanan tak panjang, dan sebagian besar berupa penyiapan infrastruktur web untuk Kabupaten setempat :).

Untuk menghemat, kami menggunakan penerbangan Lion Air. Konon ada 4-5 penerbangan Lion Air dari Jakarta ke Manado per harinya. Kami naik penerbangan terakhir. Dan yang mengejutkan, pesawat berkapasitas 180 orang ini penuh sampai kursi terakhir. Konon trafik udara antara Manado dan Jakarta memang selalu tinggi. Indikasi ekonomi yang baik di Manado, atau indikasi banyaknya warga Manado yang sukses berkarir di Jakarta?

Kami sampai menjelang tengah malam di Sam Ratulangi Airport. Nama Sam Ratulangi diambil dari pahlawan nasional yang berasal dari daerah Minahasa. Jadi bukan gaya Arek Malang yang memanggil temannya dengan “Sam” (=Mas). Hotel yang kami tempati terletak nyaris di tepi pantai. Manado terjepit di antara gunung, perbukitan, dan pantai. Jadi tak banyak tanah perkotaan yang tersisa, di luar perkebunan di lahan miring. Maka pantai pun direklamasi untuk menciptakan lahan baru untuk fasilitas perkotaan, seperti mal-mal baru. Haha. Hotel kami terletak di depan lahan reklamasi itu, tapi tak di atasnya.

Pagi setelah sarapan, kami langsung melaju ke Minahasa Selatan. Jaraknya cukup jauh dari Manado. Berliku-liku, kami berkendaraan selama 2 jam untuk mencapai Kota Amurang, ibukota Minahasa Selatan, lalu disambung 2 jam lagi ke kecamatan Modoinding. Kami dikawal pengawal jalan dari kepolisian, jadi bisa melaju kencang. Tapi melaju kencang di tempat berliku menimbulkan resiko tersendiri. Mr Komang kena mabok darat. Maka kami memisahkan diri dari rombongan Bupati Minahasa Selatan, dan menempuh perjalanan secara lebih santai. Tapi perjalanan panjang ini memberikan anugerahnya sendiri: panorama alam yang fantastik, dan inspirasi dari daerah yang tengah bangkit.

Modoinding! Ini satu tempat yang paling sempurna di muka bumi :). Lembah agropolitan tempat berbagai hasil bumi aktif diproduksi, dikelilingi bukit2 Minahasa tempat kabut tebal menyerang secara sporadik, lalu meninggalkan kita di bawah matahari ramah, atau hujan lebat, dipagari Danau Muat berliku.

Kabupaten Minsel berdiri sekitar 5 tahun lalu. Secara cepat, ia mengembangkan diri dari industri pertanian dalam skala luas. Agropolitan, mereka menyebutnya. Performa gemilang ini membuat Minsel dimaklumkan sebagai satu dari 10 kabupaten terbaik di republik kita ini. Namun orang2 Minsel tak berhenti. Mereka kini mencoba mengembangkan bisnis pertanian mereka melalui kekuatan digital: e-Local-Government di sistem pemerintahan, dan web-promotion untuk bisnis dan awareness dunia.

Keinginan itu yang kemudian membawa tim kami menjenguk wilayah ini.  Tim cukup lengkap, didukung Depkominfo, ELGHD, JICA, dan Telkom. Telkom, selain dibekali PR mengembangkan infrastruktur, juga memberikan konsultansi ke masyarakat tentang web-promotion. Selain itu, CSR Telkom juga menyumbangkan komputer ke ICT learning centre di Kantor Kabupaten Minsel. Asyik melihat para pelajar SMA dan SMP menyerbu learning centre yang baru ini. Ini sesuatu yang baru dimulai; dan diharapkan akan aktif digerakkan oleh community. Jurus2 Web 2.0 harus dikerahkan :).

Sayang tak bisa lama kami berada di Modoinding dan Amurang. Sekali lagi kami harus menyusuri jalan yang meliuk2 fantastik itu untuk kembali ke kota Manado. Lepas dari Amurang, mendekati Manado, baru jalan bisa agak lurus. Aku sempat turun dari mobil untuk memotret suasana matahari tenggelam di Pasifik. Namun Pasifik langsung menyapaku dengan sambaran ombak yang tinggi: membasahi jaket, baju, rambut, dan kamera. Haha. Lalu kami masuk Manado.

Foto tersimpan di Facebook, dan beberapa di antaranya terdisplay di tumblelog.

Di Manado, kami berlepas dari rombongan. Aku dan Mr Komang memutuskan cari sea food yang sedap dengan keluarga kakak Mr Komang yang memang tinggal di Manado. Masakan sea food Minahasa OK sekali. Woku ikan segar, ikan panggang, kentang, wow. Sedap 100% :).

Eh, sayangnya, malamnya aku jadi mabuk berat. Mungkin efek angin malam dari Pasifik yang meniupiku selama makan malam, plus sapaan ombak yang membasahiku sorenya, dan darahku yang masih meliuk2 mengikuti jalanan panjang dari Manado ke Modoinding dan kembali lagi. Kacaw balaw. Sampai pagi aku belum bisa tidur. Mual dan pusing. Sempat jalan pagi ke pantai Manado, dan mengambil beberapa foto. Balik ke kamar, terkapar, dan baru bangun menjelang tengah hari.

Bali ke Jakarta, bawa oleh2 klappertaart ajaib yang berbahan baku kelapa dari jutaan nyiur yang tumbuh di perbukitan, tanah datar, dan pantai di provinsi ini. Negeri yang keren :).

Leave a Reply