National Express

Aku lebih dekat ke National Express daripada yang direncanakan. Di rencana awal, memang perjalanan darat di UK akan menggunakan kereta api dan coach. Dan demi harga tiket yang murah, aku mengambil resiko untuk mengambil tiket yang sifatnya non-refundable non-reschedulable. Selisihnya cukup jauh dengan tiket yang reschedulable, apalagi dengan yang refundable. Tapi setelah bencana Eyjafjallajökull, para operator kereta api tak cukup simpatik menanggapi permintaan rescheduling. Bukan salah mereka sih. Sikap tidak simpatik tidak melanggar hukum :). National Express menanggapi lebih simpatik. Tapi setelah korespondensi lebih lanjut, ternyata tak mudah juga untuk mengajukan reschedule ke mereka. Akhirnya: semua tiket aku beli lagi. Tiket2 lama seluruhnya hangus.

Eyjafjallajökull (aku mengetik ini tanpa copy-paste loh) masih mengepul. Jadi memesan tiket kereta sungguh perbuatan gila. Aku memilih membeli hanya sebagian tiket coach melalui National Express, agar ada jaminan bahwa kami akan bisa melakukan travelling tanpa kendala. Namun beberapa jalur belum aku beli. Yang mengejutkan — dan kami baru tahu selama perjalanan — adalah bahwa nyaris tidak ada selisih harga tiket antara pemesanan jauh hari melalui Internet, dengan pemesanan beberapa saat sebelumnya. Dengan pemesanan di Internet, kita hanya meyakinkan diri bahwa kita memperoleh tempat. Pun, jika bukan kondisi ekstrim seperti libur besar atau bencana, coach umumnya sangat tidak penuh.

Hal lain yang mungkin memotivasi untuk memesan via Internet adalah bahwa kadang ada tiket yang dijual dengan tanda funfare. Wow. Ini artinya banting harga yang sesungguhnya, dan hanya diberikan beberapa saat saja. Harga £30 – £40 per tiket bisa turun hingga £5 saja. Namun umumnya kita diberi kesempatan hanya 30 menit untuk memutuskan apakah tiket itu kita ambil. Tidak ada persyaratan aneh lain. Aku mengambil tiket funfare ini untuk perjalanan dari York ke London. Harganya jadi sama dengan York-Thirsk p.p. yang jaraknya cukup dekat.

Di akhir perjananan, aku baru sadar bahwa aku telah menggunakan hampir seluruh metode pembelian tiket untuk National Express ini:

  1. Dari Stansted ke London, pembelian langsung di kantor penjualan tiket. Tiket berbentuk kertas tebal dan panjang.
  2. Dari London ke Cardiff, serta Cardiff ke Birmingham, pemesanan melalui Internet dari Indonesia. Tiket dicetak sendiri di printer.
  3. Dari Birmingham ke Coventry, setelah tak memperoleh tiket kereta, aku beli tiket coach. Pembelian dilakukan via mesin penjualan. Dan tiket berbentuk kertas fax yang tercetak.
  4. Dari York ke Thirsk, dan sebaliknya, pemesanan melalui mobile Internet dari York. Tiket dikirim via SMS. Tapi karena SMS agak terlambat, maka untuk coach dari York ke Thirsk aku menunjukkan layar konfirmasi web di HP. Untuk coach dari Thirsk ke York, aku menunjukkan layar SMS.
  5. Dari York ke London, pemesanan via Internet dari Indonesia, dengan harga fun fare.
  6. Dari London (Liverpool Street) ke Stansted, aku naik kereta Stansted Express yang masih satu group dengan National Express. Membeli tiket di ticket office, tiket yang diberikan berupa kartu seukuran KTP.

Yang juga sebenarnya menarik adalah fleksibilitas tiket. Dari Thirsk ke York, aku sebenarnya dijadwalkan naik coach jam 18.00. Tapi karena terlalu dingin dan lelah, aku memutuskan lebih cepat kembali ke York. Jadi tiket (SMS) aku tunjukkan ke driver coach ke Liverpool yang kebetulan lewat York juga. Si driver menyuruhku lompat masuk tanpa banyak menginterogasi. Juga untuk Stansted Express, kita bisa fleksibel memilih jam perjalanan kita sendiri — keretanya berangkat setiap 15 menit.

Yang tidak menarik, tentu, adalah kerumitan si operator telefon National Express, yang jadi mempersulit rescheduling tiket coach. Akhirnya hangus. Ah, lupakan hal2 kecil :). Lebih banyak hal yang menarik :).

Leave a Reply