Taipei

Biasanya penerbangan pilihanku tak jauh dari Garuda Indonesia dan Air Asia. Kebetulan perjalanan ke Taipei ini dibiayai oleh organiser; jadi tentu Garuda Indonesia jadi pilihan pertama. Sayangnya, Garuda belum memiliki penerbangan langsung ke Taipei. Alih2, dia menawarkan partner airline-nya, yaitu China Airline. Jujur, aku nggak tahu ini punya Cina yang mana. Tapi yang jelas, jadwal yang dia berikan nggak ada yang match. Jadi aku balik ke jalur online. Coba Air Asia, nggak ada jadwal yan genak juga. Harus menginap semalam di Kualalumpur. Mengincar Tunes Hotel, penuh pada malam itu. Kebayang kesulitan cari hotel kayak zaman Eyjafjallajokull itu. Akhirnya, ambil pilihan berikutnya: Singapore Airline. Kali ini jadwalnya agak pas. Transit di Singapore. OK juga. Execute(); Sekalian mendaftarkan diri ke program KrisFlyer. Kan koleksi kartu.

Minggu, 11 Juli 2010. Jam 4 pagi aku sudah meluncur dari rumah ke Soekarno Hatta Airport (CGK). Sampai sebelum jam 5. Langsung checkin, plus pamer nomor KrisFlyer. Antrian sepi. Tapi mendadak ada panggilan untuk boarding. Hey, penerbangan masih 1 jam lagi padahal. Itu Minggu pagi. Antrian di loket bebas fiskal juga sepi. Pun mereka sudah menggantikan stiker bebas fiskal dengan cap biasa. Antrian di imigrasi juga pendek. Musim liburan baru usai :). Aku meluangkan 10 menit di Pura Indah Lounge (really?), sekedar cari teh panas dan tiga potong roti. Trus boarding.

SIA meluncur pukul 6:15 tepat. Aku sering lihat SIA lepas landas atau mendarat di Changi; dan kesannya halus sekali. Tapi dari dalam sini, rasanya tak jauh berbeda dengan Garuda atau Air Asia. Tak lama, para pramugari menawarkan minuman. Lalu sarapan. Dan teh panas. Pukul 7:30 WIB, SIA mendarat di Changi. Waktu setempat 8:30.

Aku masih harus menunggu pukul 12:00. Menunggu di Terminal 3 tampaknya tak membosankan. Malah sebenarnya disediakan City Tour Gratis selama 2 jam untuk mereka yang berminat. Tapi aku iseng jalan2 dulu sebelum serius cari loketnya. Sampai di loket jam 9 lebih, sementara tour dimulai pukul 9:00. So, istirahat di Changi, menikmati WiFi gratis via WirelessSG. Kebetulan aku masih punya username dan password. Tapi kalau belum punya, kita bisa (a) beli kartu Singtel dan mendaftar di web (b) pakai kartu Telkomsel kita untuk memperoleh username dan password (c) minta username ke tempat yang disediakan. Tadinya mau beresin presentasi. Tapi aku pikir, aku beresin sambil dengerin presentasi saja. Biar ada inspirasi baru. Jadi aku keliling di Terminal 3. Ada bioskop gratis untuk transitter. Ada hairdresser yang gak gratis. Ada taman permainan anak2. Haha, aku baru sadar Changi selengkap ini. Ke mana aja biasanya aku ya? Ada ruang yang disebut Rest Area, dengan kursi malas berjajar panjang. Bosan berkeliling, akhirnya aku menjatuhkan diri ke salah satu kursi malas. Setengah jam. Trus boading untuk perjalanan ke Taiwan.

Pukul 12:20, SIA menerbangkan aku lagi ke Taiwan. Penerbangan kali ini cukup lama. Pramugari menawari minuman. Bapak di sebelahku pesan bir terus menerus. Ada 4 kaleng kali. Aku segelas jus saja. Lalu makan siang: ada dua pilihan yang bisa diambil penumpang. Aku baca dulu: satu berbabi, satu tidak. Haha. Lalu kopi panas. Dan aku habiskan waktu sisanya untuk perbaikan file presentasi Powerpoint. Bosan edit2, baru aku buka entertainment pack. Menarik juga. TV dengan puluhan kanal video, program anak2, musik (tak ada Wagner). Program learning untuk belajar bahasa (mirip di Garuda). Dan menu PC, tempat kita bisa mengeksplorasi file2 dari handphone, memory card, atau flash kita melalui port USB yang disediakan. Menarik. Utak atik, sementara si Bapak sebelahku terus ngebir. Huh, pantas tiketnya mahal. Tersedia opsi barang haram tak terbatas gini sih. Mendingan a la carte biar (a) lebih murah (b) mengurangi resiko aku duduk sebelahan orang mabok.

Pukul 17:00 SIA mendarat di Taoyuan Airport. Hahah, Taoyuan agak simetrik dengan Taiwan, kan? Zone waktu Taiwan sama dengan Singapore. Antri imigrasi, cukup singkat. Antri bagasi, agak lama. Trus, atas petunjuk Erly Bahsan, aku naik bis 1819 (dengan tiket NTD 125) ke Main Station. Sekitar 40 menit, aku masuk ke kota Taipei. Sampai di Main Station, malam mulai merembang. Tunggu Erly di pintu timur. Sama2 belum saling lihat, jadi semua orang aku lihat. Banyak yang wajahnya lokal. Kayaknya ini paduan antara bangsa Cina dan kepulauan Asia Timur. Tempat ini memang tak sangat jauh dari Luzon. Dan Luzon dekat Mindanao. Dan Mindanao dekat Minahasa. Dan Minahasa dekat … dst.

Akhirnya makhluk bernama Erly itu datang dan menyapa. Haha. Beda sama fotonya :). Erly mengguide aku berMRT ala Taipei: bukan dengan tiket kartu, tapi dengan koin plastik. Cukup NTD 20 ke Sheraton. Checkin ke Sheraton dulu, trus cari dinner. Trus berpisah lagi. Aku harus istirahat. Tapi ternyata nggak bisa istirahat. Kepalaku menyebalkan. Internet di kamar cukup mahal: NTD 240 per jam. Tapi di lobby ada WiFi gratis. Plus ada beberapa terminal Internet gratis.

Senin, 12 Juli, mandi dan turun ke ruang seminar, tanpa sarapan. Tapi aku nggak biasa sarapan jam segitu. Cerita tentang seminar bisa dilihat di Blog Bahasa Indonesia atau English Blog. Seminar berakhir jam 17:40, dan tidak ada acara malam. Erly sibuk di kampus. Jadi aku ikuti pelajaran untuk naik MRT dengan koin plastik, ke Sun Yat Sen Memorial Hall. Sore itu baru hujan. Warga Taipei berolahraga atau bersantai di sekitar hall besar itu. Segala usia. Suasana mirip hall di bawah Esplanade di Singapore, tapi dengan pengunjung muda hingga tua. Plus anjing yang menemani pemiliknya berjalan2. Jinak2 dan bersih. Berkeliling sendirian, aku akhirnya masuk ke hall. Ada patung Dr Sun Yat Sen berukuran kolosal. Beberapa petugas mengawasi. Ada perintah tertulis untuk memberikan salut. Aku mengambil foto saja, trus keluar lagi. Tak terlalu berminat ke museumnya. Lagipula aku agak ragu, apa benar Dr Sun pernah datang ke Taiwan :). Di luar, lampu2 mulai menyala. Aku jalan terus ke arah Taipei 101, gedung tertinggi di Taiwan.

Taiwan 101 tak terlalu jauh. Aku jalan melalui City Hall. Ini mall besar, mirip Pacific Place. Nggak bikin terlalu betah sebenarnya. Tapi ada toko buku Page One. Masuk dulu. Wow, ada sederetan terjemahan Le Petit Prince dalam bahasa (dan huruf) Cina. Ada yang dibaca dari depan ke belakang, dan dari belakang ke depan. Aku ambil masing2 satu. Keluar, ada pintu Observatorium, tempat kita bisa naik ke puncak gedung untuk melihat seluruh kota Taipei. Cukup banyak yang antri masuk. Aku mendadak kehilangan minat juga. Sendirian sih, haha. So, aku ke sebuah toko souvenir. Melihat2 sebentar, akhirnya aku malah menghabiskan waktu dengan chatting dan becanda riang dengan pemilik toko yang ramah nian. Semua obyek diceritakan sejarahnya. Ini patung pembawa keselamatan, sejarahnya dari angin kencang yang menghancurkan negeri Cina, tetapi dapat dihentikan seekor singa; yang satunya pembawa rejeki; dan satunya … batu biasa. Dst, dst, dst. Asik aja :).

Keluar dari 101, aku pikir malam belum terlalu larut. Aku cari taksi. Bukan malas cari MRT sih. Tapi aku belum banyak lihat Taipei dari atas bumi. Mirip di Jakarta, taksi boleh distop di mana saja, asal di pinggir jalan. Hati2 tapi: pengendara motor di Taipei agak serampangan. Memang masih kalah gila dibandingkan motorist Jakarta :). Aku mengarah ke Chiang Kai Shek Memorial Hall (Jiang Jeshi, kata orang RRC). Langit gelap. Tapi awan masih merah jingga. Masih cukup OK untuk mengambil beberapa foto. Hall ini dibuat saat Taipei sudah mulai berjaya. Arsitekturnya stylist sekali. Dan halamannya amat luas. Aku sempat becanda dengan balita yang diajak kakek neneknya jalan2 ke halaman hall. Di halalan hall itu juga ada gedung National Theatre dan National Orchestra juga, dengan gaya tradisional berwarna merah. Foto2 sendirian (dan tentu, lupa ambil potret diri). Trus jalan2 di sekitar. Trus balik lagi ke Sheraton. Istirahat cepat, soalnya paginya aku yang harus berpresentasi dan berpanel di seminar.

Selasa, 13 Juli. Presentasiku cukup sukses, dengan tanggapan positif dari pihak2 yang menarik (haha). Aku sempat talk dengan researcher dari NSN yang presentasinya sehari sebelumnya aku anggap luar biasa. Lucunya, justru dia yang minta bahan presentasiku. Dia mahir beberapa bahasa. Dan untuk membuat aku lebih kaget, dia bilang Selamat Pagi, Terima Kasih, dan bahwa kakeknya dulu dari Pasar Baru. Haha. Chairman Seminar juga memberikan apresiasinya atas kesertaan orang Indonesia dengan problematika dan potensi2nya yang menarik. Juga delegasi RRC menyempatkan diri berbincang serius amat. Tapi aku harus cepat pergi. Pesawatku akan terbang sebelum seminar selesai.

Melejit ke Main Station lagi. Kali ini aku gagal naik bis. Seorang taxi driver menawariku tarif murah sekali untuk ke Taoyuan: NTD 200. Mirip di Gambir. Bedanya taxinya bagus. Tetap perlu 40 menit untuk ke Taoyuan. Masuk Terminal 2. Check in. Imigrasi. Menunggu sebentar. Boarding. Dan lima jam penerbangan ke Changi. Kali ini, teman dudukku pemuda Filipina. Dia nggak pesan bir. Tapi pesan red wine terus menerus. Syukur nggak mabok. Dan aku menikmati Alice in Wonderland serta beberapa musik. Transit sebentar di Changi. Rasanya badan kurang fit. Sedikit meradang. Aku menyerang Starbucks, pesan Chai Latte grande, dan beberapa kantung kenari. Trus penerbangan ke Jakarta. Yang terakhir ini tak menarik. Pesawat mendarat sangat keras di Soekarno Hatta. Bummmm. Tapi syukurlah, aku sudah di Indonesia lagi. Masih kurang fit, aku berdiri hampir terakhir di pesawat itu. Jalan ke imigrasi. Huh, tanpa antrian. Sepi. Ajaib. Tapi akibatnya, antri luggage jadi terasa lama sekali. Hampir 40 menit lagi. Dan sampai rumah menjelang tengah malam.

Misi berhasil :)

1 Comment

  1. untitled_track
    Aug 11, 2010

    I would like to exchange links with your site travgeek.com
    Is this possible?

Leave a Reply