Desember di Hong Kong

Mungkin Desember bukan waktu yang pas buat jalan-jalan. Takda waktu untuk persiapan, takda waktu untuk menikmati sepenuhnya, takda waktu untuk bercerita sesudahnya. Tujuan jalan di awal Desember lalu adalah Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang kini menjadi wilayah otonomi khusus di bawah RRC. Aku hanya punya 2 hari untuk mempersiapkan perjalanan (termasuk persiapan presentasi di forum internasional Carrier Ethernet World di sana). Ini dua hari dengan beban kerja cukup tinggi; jadi aku benar2 tak memiliki persiapan memadai.

Yang pertama dilakukan adalah memesan tiket pesawat. Aku langsung mencoba ke Garuda Indonesia. Namun Garuda menolak reservasi yang dilakukan kurang dari 72 jam sebelum keberangkatan. Menimbang alternatif lain, akhirnya aku memilih Cathay Pacific: ke Hong Kong dengan penerbangan Hong Kong :). Untuk memilih hotel, aku menggunakan Asia Travel, dan langsung memilih hotel tak jauh dari tempat konferensi di kawasan Causeway Bay, dengan akses Internet. Kalau sebelum ke UK dan Taiwan aku menyempatkan diri mencetak halaman WikiTravel (untuk dibaca di pesawat), kali ini aku cukup memindahkan halaman WikiTravel itu ke teman jalanku: Kindle book reader. Lalu dua hari aku pakai bekerja dan melupakan urusan Hong Kong.

Check in di Cathay Pasific cukup santai. Kita cukup menyerahkan passport dan menyebutkan nomor penerbangan (atau tujuan penerbangan), dan prosesnya efisien. Mengurus bebas fiskal juga terasa sekedar basa basi di bulan terakhir berlakunya kebijakan pembayaran fiskal (sejak Januari 2011, warga indonesia tak lagi dipungut fiskal untuk pergi ke luar negeri). Langsung boarding, dan tak lama pesawat mengangkasa di langit Jakarta yang sedang berkabut. Kindle kubuka, dan aku mulai mencari info: apa yang harus kulakukan setelah pesawat mendarat.

Hong Kong International Airport berada di pulau kecil Chep Lap Kok yang memang difungsikan sebagai bandara. Dari Chep Lap Kok, kita harus melintasi Pulau Lantau, lalu menyeberang ke Pulau Hong Kong. Ada tiga sarana yang dianjurkan: bis, kereta, atau taksi, dengan ongkos sekali jalan masing-masing $40, $100, $350. HK$1 setara kira-kira Rp 1100. Jadi, kalikan angka dollar dengan 1000, tambahkan 10%. Itu saja info yang aku perlu tahu. Kindle masuk tas, Macbook keluar, dan aku harus mulai menyusun materi presentasi. Kelelahan dari hari2 sebelumnya, aku akhirnya tidur :), dan bangun saat pesawat memasuki kabut Hong Kong. Pesawat melandas lembut. Antrian imigrasi panjang, dan terasa cukup lama. Tapi prosesnya pendek.

Merasa agak segar akibat sempat tidur, aku memilih naik bis. Dari terminal kedatangan, kita cukup jalan lurus keluar, lalu berjalan kaki santai sebentar ke arah kanan. Loket-loket bis sudah menanti tanpa antrian. Sambil lihat peta di iPhone (dengan WiFi gratis dari airport), aku memilih bis A11 ke arah Wanchai. Antri sebentar. Di bis, terjadi kejutan: ada WiFi gratis! Tweeting dulu :), sambil mulai cari info ini itu.

Tapi lalu perhatian lebih ke arah luar jendela. Hongkong adalah wilayah lepas pantai Asia Timur yang berbukit dan bergunung. Perbukitan menghujam pantai biru, dan di lekuk lerengnya dibangun jalan raya tempat kami melintas di jalan yang halus dengan variasi lorong, terowongan, dan jembatan. Jembatan dari Lantau ke Hongkong cukup panjang, dan pemandangannya menarik. Tapi Hong Kong sedang dilapisi kabut hangat yang membuatku gagal membuat foto2 menarik.

Masuk pulau Hong Kong, tampak pemandangan dari kota modern peninggalan koloni Inggris yang kini jadi salah satu kota niaga yang paling diperhitungkan di dunia. Dulu konon Inggris sempat amat restriktif menjaga pulau ini, menjadikannya wilayah eksklusif dengan sesedikit mungkin pengaruh warga lokal. Tapi di abad 20, itu berubah, dan budaya Cina kembali memasuki Hong Kong. Dalam 1 jam, aku masuk daerah Wanchai, dengan gabungan suasana tradisional (kafe, warung, penjual makanan di pasar, dll), mal-mal modern, mobil-mobil dan tram yang padat penumpang; tapi tanpa bau amis mengambang seperti Jakarta. Melintas Wanchai, aku turun di Causeway Bay. Dengan GPS, hotel kucari sebentar.

Aku menghabiskan sore dengan meneruskan presentasi. Ilustrasi gak boleh acak2an, kan? Dan alurnya masih simpang siur. Lepas malam, aku memutuskan melihat suasana. Jalan kaki mengitari Wanchai, Causeway Bay, hingga Victoria Harbour; tersesat ke Toko Buku (tentu saja), ke pasar tradisional, dan beristirahat makan malam di sebuah kafe mungil.

Perjalanan diteruskan dengan … beli jas :). Hahah :). Ini seminar nggak main2 sih. Dan di Hong Kong, para karyawan dan mahasiswa berjalan malam masih mengenakan jas. Rasanya kurang sopan kalaw aku nekat pakai jaket berpresentasi :). Dapat jas dari bahan wool yang nyaman, aku langsung balik. Teruskan membuat presentasi lagi; dan selesai jauh melintas tengah malam. Bobo.

Pagi, mandi, dan yang pertama terpikir adalah memperbaiki presentasi lagi. Kali ini soal grafis. Aku nggak sempat berlatih mempresentasikan. Pakai jas baru. Euh, sialan, kegedean — kenapa tadi malam terasa pas? Dengan taksi ($20 saja), aku ke Excelsior Hotel, tempat seminar. Menyempatkan diri jalan ke toko jas yang tak jauh dari Excelsior; dan menukar jas dengan 4 nomor di bawahnya (berarti ngantuk sekali aku semalam).

Seminarnya sendiri sudah aku laporkan di blog-blog berikut:

Selesai presentasi; karena banyak yang cukup tertarik pada materi presentasiku, aku diminta masuk ke sesi diskusi panel. Kegiatan2 ini baru berakhir setelah langit menggelap. Tapi, Alhamdulillah, syukur semuanya sudah selesai. Aku tinggal jalan2. Teorinya gitu. Aku baru jalan beberapa ratus meter waktu kelelahan ini terasa mengganggu. Trus aku berpikir: ah, who cares dengan jalan2 Hongkong — istirahat aja ah. Balik. Pesan dinner di hotel. Bobo setelah makan telornya saja dan minum kopinya saja, tanpa menyentuh nasinya. Kadang lupa bahwa baru kemaren2 ini dokter memperingatkan urusan CFS (d/h CFIDS).

Ceritanya diterusin besok ah. Sebenernya, sekarang pun rasanya masih lelah. Haha. Tapi urusan lain sih :).

Leave a Reply