Au Pays des Gaulois

Salah satu kesukaan yang tak sengaja dimulai adalah mengkoleksi buku Le Petit Prince dari Antoine de Saint-Exupéry dalam berbagai bahasa. Minggu lalu masuk koleksi terakhirku: Ar Priñs Bihan, dalam bahasa Brezhhoneg, atau bahasa Breton, atau dalam bahasa yang mungkin kita lebih akrab: Bahasa Galia Celtic :). Sambil asik membacai bukunya (haha), aku tak sengaja tersadar: ini negeri yang sebenarnya cukup istimewa buat aku :).

Beberapa rekan pernah bilang bahwa aku belum pernah beperjalanan ke luar Indonesia atas biaya Telkom. Tentu ini tidak benar. Justru perjalanan perdanaku ke luar Indonesia adalah atas perintah Telkom. Berempat, kami disuruh belajar transmisi pada core network di Lannion (Perancis) dan access network di Toledo (Spanyol). Air France menerbangkanku melintasi samudera India, bukit cadas di timur Arabia, kawasan Balkan yang masih berletup perang, kota Bratislava, dan mendaratkanku di Roissy CDG, Paris. Bahkan masih terasa aroma menarik saat aku menjejakkan kaki di Paris, yang dingin tapi belum membeku. Pagi aku habiskan melihat instalasi yang selalu kucitacitakan menatapnya (tertawailah) — Eiffel. Lalu TGV membawaku melintasi padang jewawut ke arah barat: Le Mans, Rennes, dan di kota yang aku baru dengar seumur hidup — Guingamp. Sebuah bis kecil menjemputku di sana, dan membawaku ke Pantai Trestrau, dan aku disambut guide kami: Vanni Tran Vivier.

Vanni mengantar kami ke hotel kecil, Marcôtel, yang harum mentega. Aku memperoleh kamar berukuran sedang, dengan perabot serba rotan, dan bed yang nyaman sekali. Tak sempat berkelana, kami diminta beristirahat cukup sampai waktu makan malam. Makan malam di luar hotel, di tepi pantai, menembus udara yang mulai beku, dengan menu sea food yang segar. Lalu dipaksa tidur :).

Lannion adalah kota amat kecil yang merupakan pusat riset berbagai perusahaan telekomunikasi di Perancis: France Télécom, Alcatel, Sagem, dll. Konon suasananya masih konservatif. Jadi kami mengenakan pakaian lengkap untuk training ini, termasuk jas dan dasi. Vanni menjemput kami dengan van kecil, dan membawa kami ke kota Lannion. Dalam suasana segar, aku mulai mengamati kawasan sekitar. Kawasan pantai dengan pasir putih, jalanan dengan lebar sedang dan lurus antar kota, yang mendadak menjadi jalan batu berkelok di kota-kota kecil penuh rumah-rumah berukuran sedang terbentuk dari batu-batu tebal kecoklatan. Bank, toko kecil, toko buku. Dan aku mulai sadar, walaupun semua maklumat ditulis dalam Bahasa Perancis, tetapi nama-nama tempat ditulis dalam dua bahasa. Vanni agak ngebut. Melintas kota Perros-Guirec/Perroz-Gireg, akhirnya kami mencapai kota Lannion/Lannuon.

Lannion berada di ujung barat negara Perancis. Rekan-rekan segenerasiku akan amat akrab dengan lokasi kota ini. Di komik Astérix, kawasan ini diempasis dengan gambar kaca pembesar. Ya, ini adalah negeri para galia gila dari kisah Astérix itu. Mereka berasal dari bangsa Celtic yang dulu memukimi Eropa, sebelum tergusur bangsa-bangsa Indo-German dan Roman. Di Britania, mereka terdesak ke Wales, ujung Skotlandia, Cornwall; serta di Irlandia dan Isle of Man. Di Eropa mereka terdesak nyaris menghilang. Tapi sebagian yang terusir dari Wales dan Cornwall melarikan diri kembali ke wilayah moyang mereka di kawasan barat Perancis, yang kemudian dinamai sebagai wilayah Bretagne ini (Inggris: Brittany, Celtic: Breizh). Setelah Revolusi Perancis, budaya lokal nyaris dihapus dan diperanciskan. Namun di tahun-tahun terakhir ini mulai dibangkitkan kembali budaya celtic yang nyaris tenggelam. Maka dimulailah pembangkitan budaya dan bahasa Breton (Celtic: Brezhoneg) ini. Label nama kota pun ditulis dalam dua bahasa: Perancis dan Brezhoneg. Cukup mendadak aku berangkat ke sini, menghabiskan hari-hari sebelum keberangkatan dengan belajar sistem transmisi, sampai aku belum sempat mempelajari budaya, sejarah, dan kisah unik negeri ini.

Biarpun kami hanya berempat, namun pelatihan kami dibuka oleh Kepala Training Centre Alcatel di Lannion itu, didampingi Kepala Alcatel di Indonesia (yang entah kenapa sedang ada di sana). Suasasanya memang resmi, dan kami bersyukur mengenakan pakaian resmi yang pantas, haha. Tapi setelah ceremony singkat, kami masuk ke kelas, dan instruktur kami adalah seorang engineer riang yang mengenakan kaos polo dan jeans :D. Materi pelatihan disampaikan dalam bahasa Inggris. Kami berempat duduk terpisah, agak jauh, jadi sang instruktur bisa yakin bahwa kami benar2 berkonsentrasi pada materi pelatihan :D. Saat waktu makan siang, kami diajak ke kantin karyawan. Makanannya lengkap sekali, dengan berbagai pilihan. Dan lunch time habis untuk makan sambil diskusi. Kelas dilanjutkan sampai sore. Lalu Vanni (apakah nama ini pun perlu diceltickan jadi Gweneth) menjemput kami, menunjukkan suasana kota sebentar, dan mengantar pulang. Lalu mobil diserahkan kepada kami.

Hari-hari berikutnya, kami berbagi tugas. Dua rekan bergantian jadi driver. Aku jadi navigator abadi (karena bisa membaca petunjuk berbahasa Perancis, dan punya intuisi arah, haha). Satu rekan kadang ada dan kadang menghilang. Kami tidak pernah lagi makan siang di kantin, tetapi selalu mencari tempat di kota. Kadang cukup membeli roti dengan berbagai isinya, lalu makan siang di tempat2 unik. Jadi waktu rehat tak disia2kan di dalam kompleks Alcatel. Pagi, aku melintasi pasir putir pantai Trestraou, setelah menyantap butter croissant yang sedap di Marcôtel. Aku diberitahu bahwa kami ditempatkan di Marcôtel dengan alasan bahwa di sana mereka membuat croissant terenak di dunia. Aku belum pernah keliling dunia sih, jadi belum bisa membuktikan. Tapi memang sejauh ini, aku belum menemukan croissant yang lebih sedap daripada di Marcôtel. Sore, kami berkeliling lagi sebelum pulang. Kadang dekat, tapi kadang iseng agak jauh.

Petualangan terjauh dilakukan waktu aku memprovokasi rekan-rekan untuk meninjau sebuah bangunan bernama Cosmopolis di dekat kota Pleumeur-Bodou/Pleuveur-Bodoù. Bangunan besar ini konon merupakan salah satu pusat sains angkasa, lengkap dengan museum, situs bersejarah, dan observatorium. Tanpa peta, kami mencari kota Pleumeur-Bodou hanya dengan melihat petunjuk jalan. tak berani bertanya, karena modal Bahasa Perancisku hanya membaca-menulis, bukan bercakap. Tapi petualangannya menarik. Kami melewati kota-kota dengan tembok kecoklatan yang berbeda dengan jalur Trestraou-Lannion. Dan akhirnya berhasillah kami mencapai Pleumeur-Bodou. Tapi cosmopolis ada di luar kota. Jadi kami harus melintasi lembah-lembah dan tebing-tebing berpadang rumput lagi untuk mencari sang Cosmopolis. Sampai dekat pun, bangunan itu tak tampak. Tapi syukur, tanda-tanda jalan membantu. Dan sampailah kami di Cosmopolis.

Aku lupa kenapa saat itu Cosmopolis tutup. Karena terlalu sore (lebih dari jam 17.00), karena musim sepi, atau karena hari libur :). Tapi yang jelas, kami hanya bisa melihat museumnya, dan berfoto di depan gedung kosmopolis yang berbentuk bola putih besar seperti planet yang sedang terbit itu :). Tak ingin segera kembali, kami berjalan-jalan ke sekitar. Dan … sebuah kejutan menanti … kami sampai di Kampung Astérix!

Di samping Cosmopolis, mereka mereservasikan sebuah lahan yang merupakan replika desa suku galia celtic purba. Sebuah desa yang dikeliling dengan pagar kayu dari pokok pohon, dengan ujung runcing. Di dalamnya: jalan-jalan kecil, dengan rumah-rumah kayu beratap daun kering. Ini bukan obyek wisata besar seperti Taman Asterix yang ada di Perancis entah bagian mana, tetapi benar-benar hanya sebuah desa Galia, di pantai Armoric yang berbatu. Kami cuma tertawa melihat “penemuan” kami ini :). Tapi ingat harus pulang.

Dan malamnya, aku dihantui oleh Tristan & Iseult :D.

Hari Jumat, suasanya lebih santai. Kami menghabiskan hanya setengah hari di Lannion, lalu ke Guingamp/Gwengamp untuk beribadah Shalat Jumat di masjid kecil di sana (ada cerita sedikit di sana). Sedikit jalan-jalan, aku beli buku Le Mur tulisan Sartre. Lalu kembali ke Trestraou. Terpaksa mencari makan di Trestraou, kami menemukan resto kecil. Dan di sinilah untuk pertama kali aku baru tahu, kenapa saat belajar bahasa Perancis, kita disuruh menyusun kalimat yang penuh dengan soal2 makanan, bukan teknologi. Aku harus bicara dengan koki, menegosiasikan makanan apa yang bisa kami makan, apa yang tersedia, dll, dalam bahasa Perancis. (Sementara, di kelas, kami berbincang tentang teknologi dalam bahasa Inggris saja). Lalu Vanni muncul lagi, menculik kami ke airport setempat.

Hanya sempat becanda sebentar; lalu pesawat domestik itu memisahkan kami dengan negeri para galia. Sore itu, kami didaratkan di Orly, Paris. Kisah berikutnya, sudah aku tulis di entry sebelumnya: Weekend di Paris. Lalu perjalanan diteruskan ke Madrid, Tolédo, dan London.

Leave a Reply