Kyoto

Bumi bulat itu menarik, membuat banyak hal tak disangka. Di Indonesia, negara di Asia Timur di selatan khatulistiwa, orang mengarah kiblat ke barat agak utara. Tapi di Jepang, negara di Asia Timur, jauh di utara khatulistiwa, arah kiblat juga ke barat agak utara. Tampak tak logis dengan peta dua dimensi, tapi amat logis dilihat di bola dunia :). Hal ini yang terpikir saat aku akhirnya berhasil masuk ke kamarku di Righa Hotel, di tengah kota tua Kyoto, setelah perjalanan panjang via udara dari Jakarta, KL, Tokyo, disusul dengan Shinkanzen ke kota ini.

Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto menghabiskan sekitar ¥12.000. Tapi cukup menarik, kerna aku jadi sempat melirik Gunung Fuji nan terkenal akan bentuknya yang simetris menjulang itu. Shinkanzen memungkinkan Tokyo-Kyoto ditempuh dalam kurang dari 3 jam. Maka aku masuk Kyoto terlalu pagi. Datang ke Rihga Hotel (hanya 10 menit berjalan kaki dari kereta), aku meminta early check-in. Nona waiter menarik luggageku ke Lt 8, mengantarku ke kamar yang nyaris perfect, dan mengingatkan bahwa di negeri ini tak dikenal budaya tips.

Kelelahan, aku langsung membersihkan badan, berbaring, dan langsung tidur beberapa jam. Aku menempuh 2 jam dari Jakarta ke KL, kemudian transit di KL selama 6 jam, dan meneruskan penerbangan ke Haneda selama 7 jam. Detailnya bisa aku ceritakan di posting berikutnya :). Tapi aku sampai Haneda menjelang tengah malam, dan harus menunggu kereta pertama ke Kyoto 6 jam kemudian. Disusul perjalanan 3 jam dengan kereta. Aku pikir badanku memerlukan restorasi sebelum menikmati kota Kyoto.

Menjelang sore aku bangun, mandi lagi, dan melaporkan diri ke organiser IEEE. Aku ke Kyoto memang untuk menghadiri IEEE ICC dan Comsoc AP-RCCC di KICC. KICC berada di ujung timurlaut kota Kyoto. Selesai, aku berkeliling ke pusat kota Kyoto, mengunjungi beberapa tourist centre. Ini negara ajaib. Sederhana, tak rumit, bersih, tanpa sampah dan bahkan hampir tanpa debu. Tourist centre di Kyoto Station sangat menolong. Banyak officer di sana. Aku dilayani seorang bapak yang sudah berumur. Dengan bahasa Inggris yang fasih dan lambat, ia menceritakan tempat menarik di Kyoto, tempat yang dapat dikunjungi di sore dan malam hari (karena hari sudah sore), dan bagaimana memilih tiket seefisien (semurah) mungkin selama aku di Kyoto. Juga ia memberikan beberapa voucher diskon di tempat2 menarik yang layak dikunjungi. Hari itu, aku beli tiket bis harian seharga ¥500 (karena takkan pergi terlalu jauh dari pusat kota), sekaligus beli tiket bis dan subway harian untuk besok seharga ¥1200.

Mengikuti arahan si Bapak, aku memilih bis nomor 100, ke bagian timur Kyoto. Turun di Gojo, aku menemukan diri berada di kaki bukit. Sebuah jalan kecil memisahkan jalur mobil dengan jalur pejalan kaki. Mulai berjalan mendaki, aku menikmati pemandangan rumah2 mungil, toko2 mungil di sepanjang jalan. Sekitar 20 menit, aku sampai di gerbang Kiyomizudera.

Di sekolah kita diajari bahwa warga Jepang memeluk agama Shinto dan Buddha. Warge Jepang sendiri tersebar antara spektrum yang benar2 meyakini urusan agama, hingga yang menjadikan agama hanya sebagai lifestyle. Namun Buddha dan Shinto sering dipeluk sekaligus. Jadi kita akan mudah mendapati kompleks seperti Kiyomizudera, dimana terdapat baik kuil Buddha maupun Shinto di dalamnya.

Kiyomizudera didirikan di perbukitan yang sejuk dan berpemandangan amat indah ini oleh para rahib Buddha pada tahun 800 — bahkan sebelum Kyoto menjadi ibukota kekaisaran Jepang. Kompleksnya cukup luas, meliputi beberapa bangunan tempat berdoa, dan sebuah kuil Shinto di dalamnya.

Cukup lama aku mengelilingi bukit2 itu, sebelum memutuskan mulai turun. Di jalan turun (juga sesuai arahan Bapak di TIC), aku memilih jalan yang berbeda, dengan lebih banyak rumah tradisional, kuil shinto (dengan gerbang tegak yang khas), dan pagoda. Wisata jalan kaki yang menarik sekali. Tentu, semuanya gratis. Kalau haus, selalu mudah ditemukan vending machine tempat membeli minuman seharga ¥120 – ¥150.

Turun lagi, aku menyeberangi jalan raya, dan sampai di Konnin-ji Temple, sebuah kompleks kuil zen yang cukup luas juga. Ini juga satu dari lima kuil terpenting di Kyoto. Di sebelahnya adalah Gion Corner, kawasan dengan rumah2 kecil bergaya tradisional. Di Gion Corner juga terdapat sebuah teater, yang ditujukan bagi para wisatawan yang berminat mencicipi berbagai elemen budaya Jepang tanpa waktu terlalu banyak. Menggunakan voucher dari TIC, aku membayar ¥2800, dan mengikuti satu sesi. Sesi di dalamnya, meliputi kisah tentang upacara teh, para geisha, tata bunga, teater Noh, hingga teater boneka. Semuanya dilengkapi dengan deskripsi yang menarik.

Keluar dari Gion Corner, malam telah cukup gelap. Berbekal peta kertas, aku menyusuri beberapa jalan dengan bis. Ada pola yang lucu di Kyoto. Jalan-jalan membentuk lajur-lajur dan baris-baris yang rapi. Dan kawasan nama jalan diberi nama dengan nomor, seperti sanjo, shijo, gojo, shichijo, kujo, jujo, dll. Tujuan jalan malam sih, cari toko elektronik, buat dari plug adapter. Tak mudah ternyata. Jepang konon pusat elektronika dunia :). Tapi jauh lebih mudah cari artefaks budaya dan kuliner di kota ini daripada perangkat elektronika :). Tapi akhirnya dapat.

Yang menarik adalah, biarpun trafik di jalan-jalan Kyoto tak terlalu lancar, tetapi bis kota selalu tempat waktu. Bis terakhir yang kunaiki malam ini adalah bis 206 yang akan lewat pukul 21.37. Tepat 21.37 bis datang, dan pergi lagi. Negara ajaib.

OK, cerita hari kedua ada di blog satunya, dan lebih banyak berfokus ke konferensi IEEE ICC dan Comsoc AP-RCCC di KICC. Cerita setelah ICC, tunggu sampai punya waktu dulu ya :).

Catatan: Kurs Yen. Kalau lagi malas, hitung ¥1 = Rp100. Jadi ¥100 = Rp 10.000,- — Tapi kalau mau konservatif, tambahkan 10% lagi. Jadi ¥100 = Rp 11.000,- Pasti banyak dari kita yang sudah terbiasa menghitung seperti ini :)

2 Comments

  1. Dian
    Jun 17, 2011

    Like this very much. Japan is on my list :)

  2. Sam Ardi
    Jun 17, 2011

    wow…nice :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kuncoro++ | Sidang Comsoc Asia Pasifik - [...] Jalan-jalan di Kyoto [...]

Leave a Reply