London

Masuk ke London tak semudah tahun2 sebelumnya. Pengurusan visa, yang dulu hanya memerlukan 1, 2, 3 hari, kini memakan waktu hingga 3 minggu. Konon karena banyaknya kunjungan ke UK akibat summer yang konon sangat cerah dan persiapan Olimpiade Juli 2012. Lamanya pengurusan visa ini sempat membuat persiapan perjalanan cukup terkacaukan :).

Namun, saat pesawat QR-011 mendarat di Heathrow, kejutan menanti. Pertama, antrian di imigrasi ternyata tidak panjang. Jauh lebih pendek daripada antrian di Stansted tahun 2010 misalnya. Aku belum tahu bagaimana mereka melakukan pengelolaan di salah satu airport tersibuk di dunia ini. Tapi selain di imigrasi, antrian pengambilan bagasi pun pendek dan cepat. Lalu dengan beberapa langkah (termasuk lift) saja, kami sudah berapa di Kereta Express menuju Paddington. Kurang dari 1 jam sejak pendaratan di Heathrow, kami sudah berada di Hotel Blades, di kawasan Westminster, London.

Di tahun 2010, awal Mei terasa sejuk menggigilkan di kota London ini. Tapi di tahun 2012, udara di pertengahan Mei terasa panas menyengat. Langit biru cerah bersih. Di bulan Mei, Inggris menggunakan waktu musim panas (GMT +1), untuk membuat warga menikmati hari lebih lama. Tapi akibatnya, matahari baru akan tenggelam pukul 21:40. Bahkan pukul 20:00 pun, matahari terasa masih terik bersinar.

Sebenarnya kami tak terlalu menyukai kota besar. Tapi Inggris memang selalu jadi tujuan favorit. Bukan hanya karena penghuninya berbahasa Inggris (karena di negeri seperti Austria dan Ceska pun, hampir semua orang fasih berbahasa Inggris) dan mereka mengemudi di jalur yang benar, tapi memang rasanya ada semacam ikatan batin dengan negeri ini. Tapi aku tetap gak akan menyebut negeri ini sebagai tanah air kedua. Belum cukup snob untuk itu, haha :). Dan karena kunjungan ini pendek, kami memilih mengunjungi kawan lama di Greenwich, dan berkunjung ke kota kecil yang belum pernah dikunjungi: Oxford.

OK, pertama, si kawan lama dulu. Ini tiga di antaranya:

London memang memiliki banyak taman berumput, terjaga, terawat, dan posisinya berdekatan. Kondisi ini mendukung berkembangnya para tupai, baik di London maupun di banyak kota2 di Inggris. Tupai2 ini bahkan dulu jadi teman yang setia menemani (dan menggodai) dalam perjalanan dari asrama ke kampus di Coventry.

[Catatan: Tentu sebenarnya mereka adalah bajing / squirrel. Namun bangsa hewan kecil yang di zaman lalu disebut sebagai tupai sudah amat jarang tampak, dan masyarakat sudah terbiasa menggunakan kata tupai sebagai padanan kata squirrel dan pengganti kata bajing yang terasa agak kasar. Bahasa pun harus luwes :). Maka kita akan menggunakan kata tupai pada blog ini dan di teks lain. Soal lain, tentu, adalah hewan beaver dan otter yang keduanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai berang-berang.]

Hotel Blades tempat kami tinggal merupakan bangunan klasik yang mungin di kawasan yang menarik, di Westminster. Cukup beberapa langkah, kita bisa naik Bis 24 yang dalam beberapa menit membawa kita ke Victoria, istana Buckingham, gedung parlemen, dll. Harganya pun terjangkau (dibanding harga hotel lain di London yang cukup seram). Trade-off tentu ada. Hotel ini tak dilengkapi elevator. Dan kami ditempatkan 6 lantai di atas receptionist. Lari ke atas membawa koper2 sih OK. Tapi di hari kedua, lututku cedera. Nyeri sekali. Nyeri ini akan bertahan 2 minggu dan mengganggu seluruh perjalanan.

Anyway, perjalanan justru menarik karena ada tantangan-tantangan tambahan. Misalnya, aku jadi mengurangi menggunakan Tube yang amat efisien di London, karena akan harus banyak melangkah cepat di tangga naik dan terutama tangga turun yang sungguh merajam lutut kiri nan cedera itu. Jadi aku memilih banyak menggunakan bis merah yang jadi ciri khas London. Jadi tampak lebih banyak hal2 menarik yang biasanya tak tampak dari bawah tanah. Trafik tinggi di Tube juga mengakibatkan beban di atas tanah tak begitu berat: kemacetan hanya sedikit dan sporadik semata. Tiket transportasi amat mudah. Kita cukup membeli kartu Oyster, yang dapat digunakan untuk Tube, bus, DLR, dan berbagai transportasi lain. Berbeda dengan kota lain yang membedakan tiket eceran dan day ticket, Oyster membebani kita dengan harga tiket eceran hingga nilai maksimal tertentu yang setara dengan harga day ticket, lalu tak lagi memotong saldo kita. Jadi ia efisien untuk intensitas pemakaian yang rendah dan tinggi. Satu lagi ciri perabadan :)

Cerahnya langit membuat lupa, misalnya bahwa “malam” sudah tiba. Gedung Parlemen di atas diambil gambarnya pk 19:46. Agak canggung untuk makan malam misalnya pukul 20:00 waktu matahari masih terik. Tanda “malam” telah tiba adalah saat para pekerja memenuhi kedai-kedai bir mulai pukul 17:00 untuk mendinginkan badan. Dan tentu museum dan banyak hal lain sudah tutup di “malam” hari itu. Tapi masih banyak yang bisa dilihat, misalnya parade di Istana Buckingham :). Aku selalu takjub melihat acara resmi di Buckingham, dengan ribuan bapak2 mengenakan setelan resmi (jas hitam atau biru tua), serta ibu2 dengan topi beraneka gaya dan warna. Di negara mana lagi sih, acara resmi selalu berarti pameran topi yang seringkali unik itu?

Perjalanan santai di London terpotong untuk kunjungan ke Oxford. Diikuti jalan-jalan santai dari taman ke taman lagi. Lalu bersiap memulai perjalanan ke Eropa. Kali ini, untuk pertama kali aku meninggalkan Inggris bukan dengan pesawat terbang, tapi dengan kereta api.

Stasiun internasional St-Pancras berlokasi bersebelahan dengan stasiun King’s Cross. Mirip stasiun lain, hanya lebih bersih rapi dan terjaga. Setelah memeriksakan tiket masuk (cukup dengan QR code), kami langsung menghadapi pemeriksaan dokumen imigrasi Perancis. Haha :). Imigrasi Inggris memang unik: kita diperiksa hanya setiap kali masuk wilayah Inggris, tapi tak pernah diperiksa lagi waktu keluar. Ini terjadi juga di Stansted Airport tahun sebelumnya, waktu aku berasa aneh gara2 belum menemui petugas imigrasi sampai masuk pintu pesawat.

Oh ya. Jangan repot-repot untuk membawa banyak dollar, pound, euro, dll. Rugi kalau harus sering2 melakukan penukaran uang. Kadang kita hanya menemukan tempat penukaran uang yang mengenakan komisi (misalnya di airport). Pengeluaran yang mahal dan sia-sia. Banyak alternatif lain. Pertama, makin banyak tempat yang memungkinkan pembayaran dengan kartu kredit (atau kartu debet yang memiliki chip); termasuk untuk pembayaran yang tak terlalu mahal. Kedua, kalau masih perlu uang, gunakan ATM Indonesa dengan logo Visa atau Mastercard untuk mengambil mata uang lokal di Inggris atau negara2 Eropa lain.

Leave a Reply