Praha

Kereta api dari dan ke Praha secara unik dinamai menurut para seniman dan komposer. Kereta dari Wina ke Praha pukul 14:33 itu berjudul Smetana. Serasa jadi mendengar simfoni Ma Vlast dari Bedrich Smetana yang mengantar ke Sungai Vltava. Melintas perbatasan, kereta memasuki kota Breclav, Brno, Ceska Trebova, lalu berbelok ke barat, melintasi ladang di samping bukit yang berkelok — seragam tapi tak membosankan. Akhirnya masuk ke kota Praha.

Konon di bagian baru kota Praha, banyak orang2 usil. Tapi orang usil tak kurang banyak di Jakarta. Jadi buat kita tentu ini bukan masalah. Pertama, aku tidak menukarkan Euro sisa Austria ke Korun; tapi alih2 langsung ambil uang Korun (Kc atau CZK) di ATM. Kedua, aku bawa daftar taksi yang terpercaya. Tapi sayangnya taksinya gak ada di sekitar stasiun. Jadi sok pédé aku ke tempat taksi, talk dengan dispatchernya (yang mengaku cuma bisa sedikit bahasa Inggris). Dia minta harga 800 Kc. Aku pura2 kaget, “Mahal sekali?” “Maunya berapa?” Wow, Jakarta sekali. “300 Kc ya.” Dia nyebut harga2 lain. Tapi aku bilang nggak mau lebih dari 400 Kc. Deal. Taksi kuning melaju kencang agak ugal2an meninggalkan kota baru Praha masuk ke kawasan kota tua, dan langsung menurunkan aku di Hotel Residence Mala Strana. (Dalam perjalanan keluar Praha, aku naik taksi dari hotel dengan biaya resmi 350 Kc. Ditambah tip jadi 400 Kc.).

Hotel ini berada di Mala Strana, bagian dari kota tua Praha dengan gaya yang masih klasik. Receptionist menerima dalam bahasa Inggris yang jernih. Selama di kota tua ini aku membuktikan bahwa orang2 Ceska berbahasa Inggris dengan bagus dan jelas, termasuk penjaga kedai dan sopir tram. Ini semacam reaksi atas bahasa negara2 bekas penjajah seperti Jerman dan Russia: mereka menjadikan Inggris bahasa kedua.

Ceska adalah wilayah dari salah satu rumpun bangsa Slav barat. Dulu mereka mendirikan kerajaan Bohemia dan Moravia. Namun saat Dinasti Habsburg mengorganisasikan wilayah Eropa Tengah sebagai Kekaisaran Austria, kerajaan mereka dimasukkan ke dalamnya. Kekaisaran Austria mulai melemah dan direformasi menjadi Kesatuan Kekaisaran Austria dan Kerajaan Hongaria. Melemahnya organisasi bangsa2 berbahasa Jerman memicu mereka (Jerman dan Austria) memicu Perang Dunia I, yang justru akhirnya membubarkan Kekaisaran Jerman dan Kekaisaran Austria. Ceska yang merupakan wilayah Slav barat eks jajahan Austria, dan Slovenska yang merupakan wilayah Slav barat eks jajahan Hongaria bergabung menjadi Ceskoslovenska (Cekoslovakia). Penggabungan ini bertujuan agar mereka sedikit lebih kuat dalam posisi terkepung negeri2 dominan. Namun dalam pretext Perang Dunia II, Cekoslovakia diduduki Jerman (plus Hongaria dan Polandia), dan selanjutnya dikuasai kaum komunis setelah PD II. Upaya rakyat untuk membuat negara yang lebih menghargai kebebasan individu di tahun 1968 dibalas Uni Soviet dengan mengirim tank-tank dan menduduki negeri itu, serta memberlakukan gaya komunis garis keras. Setelah komunisme bubar dan Uni Soviet bubar, Cekoslovakia menjadi negara yang mandiri, dan tak lama berpisah menjadi Republik Ceska yang beribukota Praha dan Republik Slovenska yang beribukota Bratislava. Ceska dan Cekoslovakia sendiri mengingatkan aku akan Smetana, Dvorak, Kafka, hingga Kundera. Terutama Milan Kundera, tentu saja — sastrawan yang lahir di Brno dan terusir dari Cekoslovakia zaman pendudukan Uni Soviet. Dulu Indonesia bersahabat dengan Cekoslovakia; dan menulis nama ibukota negara itu sebagai Praha, yang merupakan nama asli mereka, bukan Prague atau Prag. Sekarang, meneruskan semangat yang sama, aku menulis nama negeri mereka sebagai Ceska, bukan Ceko atau Czechs.

Sore pertama, kamu berjalan sepanjang Mala Strana, melintasi Taman Petrin dan Museum Musik (Dvorak), dan berhenti di Jembatan Karluv (Karluv most, Charles Bridge). Jembatan ini dibuat pada masa Raja Charles IV, dan digunakan ratusan tahun. Baru di Abad XX, jembatan kuno ini ditutup untuk kendaraan, dan hanya digunakan untuk pejalan kaki. Konstruksi batunya masih kokoh, tepiannya adalah deretan patung dan pahatan yang merupakan karya seni dari abad ke abad. Pecinta karya klasik akan terpukau deretan artefax luar biasa ini, yang makin memukau di bawah lembayung sore saat matahari mulai tenggelam. Sementara, penggemar budaya pop pasti langsung ingat adegan2 di film Mission Impossible (versi Tom Cruise), tempat Jim Phelps pura2 mati, jatuh dari jembatan Karluv ini, dan tercebur ke sungai Vltava. Cerita menyebalkan. Tapi tempatnya memang mendukung: indah sekaligus misterius seperti menyimpan rahasia-rahasia terkonvolusi yang tak akan terkuak berabad-abad.

Hari berikutnya, kami menyusuri bagian2 dari Praha menggunakan tram, plus jalan kaki. Tiket tram dapat dibeli di mesin penjual. Andai mesin tak ditemukan, tiket bisa dibeli di kedai rokok terdekat. Harganya 24 Kc untuk 30 menit, atau 32 Kc untuk 90 menit. Tiket diaktivasi dulu di kotak kuning di dalam tram. Tapi sebenarnya tidak ada yang memeriksa apakah penumpang tram sudah membeli atau membawa tiket yang sudah aktif. Semuanya bekerja dengan sistem saling percaya saja. Kota Praha kecil, jadi aku selalu beli yang 24 Kc saja.

Pertama, naik tram dari dekat hotel, melewati jalan melingkar memanjat bukit, ke Kastil Praha (Prazky hrad). Ada yang bilang ini adalah kastil terbesar di dunia. Di dalamnya terdapat taman2, gereja2, istana, hall, kantor2 pemerintahan, dan bangunan lain, dari yang bergaya gothic hingga modern. Dulu ini adalah istana Raja Bohemia, namun terus digunakan berabad2, dan hingga kini digunakan sebagai kantor Presiden Ceska.

Menjelang siang, kami turun lagi ke pusat kota. Menikmati macchiato di Starbucks yang ditata dengan gaya klasik; lalu menyusuri bangunan2 klasik dan jalan berbatu; mengarah ke Museum Kafka.

Museum Kafka mengambil bangunan dari rumah tempat lahir Franz Kafka. Di dalamnya dipamerkan bagaimana Praha membentuk dan memetamorfosis Kafka dan bagaimana Kafka mengeksplorasi Praha, dunia, dan semestanya untuk membentuk karya2nya yang inspirasional hingga kini. Sayangnya, di dalam museum ini kita dilarang memotret apa pun. Bagian awal menampilkan Praha yang hitam putih, kabur, menampilkan sudut kota tanpa berprasangka dan tanpa membandingkan dengan nilai-nilai besar. Serba senyap, rahasia, mempermainkan ruang, membalik kejelasan, mempesona, dan mengancam. Catatan harian dan surat Kafka masa remaja tertata rapi, dengan terjemahan pada bagian2 penting, menampilkan konflik kognitif pada hidup anak muda ini. Karya2 Kafka sendiri nyaris tidak pernah menyebut tempat real di kota ini. Orang hanya bisa menduga bahwa gereja anonim dalam buku Trial mungkin adalah Katedral St Viltus di dalam Kastil Praha; atau adegan lain yang menyebut jalan dekat Jembatan Karluv, bantaran sungai Vltava, dll. Praha hadir tanpa nama dalam Kafka. Juga kadang tanpa rupa, dan hanya jadi metafora topologi.

Keluar museum, kami menyusuri kota tua lagi, menjejak Charles Bridge lagi, dan kali ini menyeberanginya ke bagian lain dari Praha. Bagian di seberang Vltava lebih padat, dan nyaris dioptimalkan untuk wisatawan. Penuh dengan toko souvenir, museum kecil, atraksi klasik ini itu, tawaran musik kamar, dll. Perjalanan berakhir di alun-alun di kota tua; dengan menara kuno yang memiliki jam astronomis. Jam itu bukan hanya menampilkan waktu saat ini, namun juga konstelasi benda langit seperti planet dan rasi bintang.

Meneruskan berjalan kaki, kami melintasi pasar tradisional (selalu menarik); lalu bagian modern dari kota Praha. Menikmati suasana kota, mengunjungi beberapa toko buku. Beli buku Kundera. Lalu cari tram, dan kembali ke kota tua Praha, turun di bukit Petrin.

Bukit Petrin ini bagian dari mimpi Tereza dalam buku Nesnesitelná Lehkost Bytí dari Kundera yang aku beli. Beberapa tahun sebelumnya aku baca edisi Inggrisnya, Unbearable Lightness of Being. Salah satu novel paling keren dari Abad ke-20. Dalam mimpinya, Tereza merasa Tomas mengirimnya ke Bukit Petrin. Di atas bukit yang indah dan tenang itu, sekelompok pria membidik dan menembaki orang2 yang secara sukarela melakukan bunuh diri dengan ditembak. Tereza tidak jadi ditembak setelah dengan suara lemah ia menyatakan tidak berada di sana secara sukarela. Tapi bukitnya memang indah, sejuk, dan menenangkan. Kami menikmati sore yang tenang, bersama beberapa ABG yang juga menikmati keceriaan sore. Sayangnya, menjelang malam, hujan mulai menitik. Rintik, sporadik, namun jadi sistemik, dan akhirnya tragekomedik. Kami berjalan cepat kembali ke hotel yang memang hanya beberapa langkah dari kaki Bukit Petrin itu.

Pagi berikutnya, persiapan untuk meninggalkan kota dan negeri yang ternyata elok dan menyimpan pesona ini. Receptionist yang baik menyampaikan bahwa aku gak perlu bayar apa2 lagi, karena harga hotel yang murah itu ternyata sudah termasuk sarapan yang enak setiap hari. Wow. Taksi hotel membawa kami ke Stasiun Praha lagi. Stasiun Praha ini besar, nyaman, dan memiliki fasilitas lengkap dari toko2, bank, toko buku, dan tempat2 duduk yang nyaman. Kereta Carl Maria von Weber (masih kereta dengan nama komposer!) menculik kami keluar Praha, menyusuri Vltava, ke utara, memasuki wilayah Sachsen di Jerman, dan menurunkan kami di Dresden.

0 Comments

Trackbacks/Pingbacks

  1. Belajar Tiada Henti » Blog Archive » Praha - - [...] Kisah lebih lengkap mengenai Praha dan perjalanan kami ada di blog partner di sini. Tweet(function() { var po =…

Leave a Reply