Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst.

Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2 demi aktualisasi diri. Wagner bahkan saat itu tidak punya masa depan dan tidak memiliki peluang untuk menampilkan karyanya di mana pun. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah Dresden dan melihat jejak Wagner di sana. Cuma sekedar mampir, turun dari Kereta Praha-Berlin, beli tiket, dan pindah ke Kereta Dresden-Nurenberg untuk turun di Bayreuth.

Balik ke mesin waktu lagi. Raja Bavaria, Ludwig II, yang baru naik tahta; ternyata mengagumi karya2 Wagner. Salah satunya adalah opera Lohengrin; tentang ksatria Templar bernama Lohengrin yang datang sebagai penolong ke wilayah Brabant mengendarai angsa besar. Ludwig pun membuat istana impian yang indah di atas perbukitan, dan dinamai Neuschwanstein (Karang Angsa Baru). Namun raja muda ini juga mengirim utusan untuk memanggil kembali Wagner ke negeri Jerman dan merehabilitasinya.

Wagner sempat tinggal di Munich. Namun orang2 berpengaruh di Bavaria sempat memaksa Ludwid II untuk meminta Wagner keluar dari Munich.

Wagner akhirnya memilih kota Bayreuth. Konon ia memilih kota itu karena terdapat Bayreuth Opernhaus yang panggungnya besar dan indah. Maka Wagner pun tinggal di Bayreuth. Namun setelah melakukan penjajagan, akhirnya Wagner justru membangun gedung opera tersendiri. Dana diperoleh dari kegiatan Wagner menggelar orchestra berkeliling Jerman, didukung penggalangan dana para pengagumnya, dan akhirnya oleh sumbangan yang besar dari Ludwig II. Di gedung opera baru ini, opera2 Wagner ditampilkan secara megah setiap tahun. Bahkan hingga kini.

Beralih dari Negara bagian Sachsen ke Bayern (Bavaria), kereta dari Dresden berhenti di stasiun Kirchenlaibach.Kami berpindah ke kereta mungil yang membawa kami dalam 10 menit ke kota Bayreuth. Di sana, kami dijemput walikota Bayreuth, Dian Ekawati.. Setidaknya mirip walikota, kerna tampaknya setiap orang di Bayreuth mengenal akrab tokoh yang satu ini. Menitipkan tas di hotel, Dian langsung mengajak kami sore itu juga ke rumah Wagner, tidak jauh dari hotel. (Tidak ada yang jauh. Ini kota memang mungil).

Seperti Parsifal yang berhasil kembali menemui markas Ksatria Templar, seperti Siegfried yang berhasil menembus gunung berpagar api, seperti Lohengrin yang lega turun di tepi sungai setelah capai mengendarai angsa (bayangin deh), akhirnya aku bisa menemui Wahnfried, rumah yang dirancang dan dihuni Richard Wagner. “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian,” tulis Wagner di temboknya, “maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Kami berkeliling di sekitar rumah. Di halaman belakang, tampak makam Richard dan Cosima Wagner. Ke luar dari rumah mereka dari belakang, kami masuk taman Hofgarten yang luas dan asri. Suasanya dingin.

Kami menghabiskan sisa hari di apartemen Dian. Sambil cuci2 baju (pakai koin, wkwkwk), dan disuguhi masakan ala Indonesia. Pantas Dian betah di Bayreuth. Ternyata ada Indonesia di dalam Bayreuth. Hari sudah sangat gelap waktu kami kembali ke hotel. Wahnfried ini tampak menyala terang di bawah cahaya keemasan. Terdengar music gelap penutup saat Parsifal kembali ke tempat para Ksatria Templar. Tapi tampaknya music misterius itu cuma ilusi lagi.

Pagi hari, kami baru mulai mengamati hotel kami. Lohmühle Hotel. Hotel mungil dan cantik dengan gaya Jerman tradisional. Bertahun2 lalu aku membayangkan bisa tinggal di salah satu bangunan putih dengan ornament kayu gelap menyilang semacam itu. Sayangnya kami tak berbasil berbahasa Inggris di sekitar sini. Semua berbahasa jerman, kecuali Mbak Ivo, yang memang orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Konon orang Indonesia di Bayreuth tinggal 3 orang.

Perjalanan pagi dimulai dengan menyusuri jalan2 kecil kota Bayreuth. Tujuan pertama adalah Bayreuth Opernhaus. Ini adalah gedung opera yang membuat Wagner memilih tinggal di kota ini. Bagian dalamnya memang indah, klasik, dan terpelihara. Kapasitas penonton tek terlalu besar. Tapi panggungnya sangat luas.

Masih ada beberapa istana, taman, dan toko buku yang wajib dikunjungi. Guidenya masih Dian. Bikin aku mendadak jadi useless satu hari penuh, wkwk. Sayangnya buku2nya berbahasa Jerman (Jadi, mau loo?). Akhirnya malah beli satu DVD pentas Lohengrin versi 2011. Yang 2012 baru akan dipentaskan bulan Juli ini.

Di akhir kunjungan singkat ke Bayreuth, kami mengunjungi Bayreuth Festspielhaus, gedung opera yang dibangun Richard Wagner. Dari depan, gedung ini menampilkan arsitektur zaman klasik akhir; tapi sebagian besar gedung hanya berupa susunan batu merah tanpa polesan. Sebuah kesederhanaan yang menarik.

Di Festspielhaus ini, akhirnya Der Ring Des Nibelungen dapat ditampilkan secara lengkap. Juga kemudian Parsifal. Dan setahun setelah Parsifal, Wagner wafat. Makamnya ada de belakang Wahnfried. Di depan Festspielhaus dipasang patung Wagner yang tengah merenung. Di depannya, seekor tupai kecil berwarna merah menikmati hari yang cerah. Kaget melihat kami, si tupai melompat ke atas pohon, dan cuma menampilkan ekornya yang lebat melambai heboh. Kadang ia meliriki kami sambil terus makan, dan membiarkan remah2 makanannya menjatuhi kami. Tupai bandel.

Tapi kami harus mengejar bis ke Berlin. Jadi kami turun lagi ke Stasiun Bayreuth., dadah2an ke Dian, lalu diangkat oleh bis bertingkat dua yang membawa kami kencang tanpa ampun meninggalkan jejak visual Wagner yang terakhir. Kali ini ilusi audio bukan lagi Parsifal; tapi Das Rheingold.

2 Comments

  1. Dian
    Jun 21, 2012

    Akhirnya, ada dipasang juga tulisan tentang Bayreuthnya. Nama toko bukunya: Margraf Buchhandlung, salah satu toko buku tertua di Bayreuth. Oh ya, aku pasang gambar Wagnerian von Indonesia ini di sini: http://dianekawati.wordpress.com/2012/06/03/sehari-di-kota-wagner-sebuah-catatan-untuk-sebuah-mimpi/ (sekalian minta ijin foto diri dipasang walaupun telat minta ijinnya ;)) gapapa lah ya)

  2. Tanpa
    Dec 12, 2015

    It’s funny you mention cousnfing Beirut with Bayreuth. A while ago there was a Wagner festival in Bayreuth and a dragon costume was ordered for one of the operas (presumably whichever one has the dragon in it). Basically the dragon’s neck was sent to Beirut by accident, so they had to do the opera with a tiny, stocky, neckless dragon.

Trackbacks/Pingbacks

  1. Belajar Tiada Henti » Blog Archive » Bayreuth - - [...] berjalan-jalan menuju rumah Wagner. Yup, satu-satunya alasan mengapa kami ke Bayreuth adalah karena partner pecinta sejati Wagner, si komponis…

Leave a Reply