The Northern Echo

The Northern Echo

Ternyata, selain di Darlington and Stockton Times, Dan Howlet akhirnya benar2 memasang kisah kesintinganku di The Northern Echo. Bahkan di tanggal yang sama dengan Darlington and Stockton. Aku ingat sekali waktu itu artikel ini tak ditemukan di The Northern Echo. Mungkin ada penataan arsip dll yang membuat artikel ini masuk ke sini. Asik nggak sih, kalau aku iseng2 ke Darrowby a.k.a. Thirsk lagi?...

Miraikan The Future Museum

Miraikan The Future Museum

Ada yang sulit dimengerti dari buku Geek Atlas. Saat orang2 Inggris sibuk memasukkan banyak research centre dan science museum di berbagai kota ke dalam buku itu, orang Jepang malah memasukkan tempat shopping semacam Akihabara. Andai aku yang jadi koresponden Jepang, aku akan memasukkan setidaknya Science Museum di Chiyoda, dan The Future Museum di Odaiba. Aku sendiri cuma punya waktu singkat di Tokyo, dan atas rekomendasi seorang rekan hanya memilih mengunjungi Odaiba. Odaiba sendiri adalah pulau buatan di lepas Teluk Tokyo, dengan posisi seolah melindungi kota Tokyo dari berbagai ancaman dari laut. Pulau ini mulai dibuat di abad ke-19, namun mulai intens digunakan di akhir abad ke-20. Berbeda dengan Tokyo yang amat padat, suasana Odaiba sungguh lapang, dengan...

Travelling Geek

Travelling Geek

Biasanya perjalanan wisata dipandu oleh buku dari Lonely Planet, atau dari ensiklopedi WikiTravel. Tapi ternyata O’Reilly pernah juga menerbitkan buku “The Geek Atlas” yang juga dapat digunakan buat menarik minat berwisata ke lokus para geek, atau untuk melihat sisi geek dari kota yang kebetulan sedang kita hinggapi. Sayangnya, buku ini US-centric, jadi sekitar 40% obyek yang ditampilkan berada di US :). Dan dari 60% sisanya, i.e. 20 negara, Indonesia belum termasuk. Yang buat aku menarik, adalah bahwa aku bisa membandingkan tempat2 yang kebetulan pernah tak sengaja terkunjungi, dengan ulasan di buku ini. Ini beberapa di antaranya (mengikuti urutan dalam buku ini): Paris: Menara Eiffel. Dari sisi estetika, banyak yang tak menyukai menara ini. Ia...

Haneda

Haneda

Travel blog itu tak mudah buat aku. Selama traveling, aku tak akan banyak membuang waktu untuk mencatat. Apalagi online. Tapi di ujung perjalanan, hutang tulisan (hutang ke diri sendiri) jadi menumpuk :). Dan karena blog bukan travel book, kita tak akan menuliskan seluruh experience kita juga — hanya beberapa highlight. Atau bikin buku sekalian? Wkwkwk. Daripada bikin buku jelek, mending gak usah ah :). OK. ini beberapa kesan yang aku coret sedikit dari travel ke Kyoto minggu lalu. Tak seperti traveler beneran, aku tak leluasa memilih waktu perjalanan. Ini adalah business trip tempat aku harus mempersiapkan laporan dan memberikan presentasi di tempat dan waktu yang sudah dijadwalkan. Jadi aku tak bebas memilih musim terbaik atau tarif termurah. Tak keduanya...

Tokyo E Iki Mas

Tokyo E Iki Mas

Weekend. Dan Kyoto station menampilkan wajah yang berbeda: tak terlalu banyak lagi gegas langkah2 panjang. Dengan langkah ringan aku memasuki ruang JR ticket sales untuk perjalanan ke Tokyo. Bercita2 melihat lagi Fujiyama, aku coba pesan reserved seat di posisi duduk dekat jendela kiri. Tapi posisi menarik itu telah penuh dipesan :). Jadi aku ambil tiket non-reservation yang lebih murah. Tiket seharga ¥12700 dicetak. Huh, semuanya huruf kanji. Arigato gozaimasta. Lincah aku bergerak ringan. Loh, ringan. Sial, luggageku tertinggal di sales desk. Balik lagi, senyum manis lagi, ambil luggage, arigato lagi. Lalu turun. Shinkanzen Hikari hampir masuk. Seorang gentleman agak senior menunjukiku peron khusus non-reservation dengan bahasa Inggris sempurna sekali. Hikari...

Kyoto & Nara

Kyoto & Nara

Negeri2 di Jepang mula2 dipersatukan sebagai federasi yang lemah pada abad ke-6. Baru di abad ke-8, kekaisaran yang kuat terbentuk dengan ibukota di Nara. Pemerintahan Nara harus berbagi kekuatan dengan bangsawan Fujiwara dan agamawan Buddha, sehingga harus berpindah ke Nagaoka selama 10 tahun, lalu akhirnya berpijak di Kyoto. Kaisar beristana di Kyoto selama 1000 tahun. Namun pemerintahan praktis dipegang oleh kekuatan militer samurai yang dipimpin shogun, yang tak selalu berpusat di Kyoto. Kekuasaan shogun terlama adalah dinasti shogun Tokugawa. Ini baru berakhir pada abad ke-19, saat AS memaksa membuka isolasi Jepang, dan shogun yang terkalahkan dijatuhkan sekelompok samurai dalam revolusi yang disebut Restorasi Meiji. Kaisar Mutsuhito yang masih muda...

Kyoto

Kyoto

Bumi bulat itu menarik, membuat banyak hal tak disangka. Di Indonesia, negara di Asia Timur di selatan khatulistiwa, orang mengarah kiblat ke barat agak utara. Tapi di Jepang, negara di Asia Timur, jauh di utara khatulistiwa, arah kiblat juga ke barat agak utara. Tampak tak logis dengan peta dua dimensi, tapi amat logis dilihat di bola dunia :). Hal ini yang terpikir saat aku akhirnya berhasil masuk ke kamarku di Righa Hotel, di tengah kota tua Kyoto, setelah perjalanan panjang via udara dari Jakarta, KL, Tokyo, disusul dengan Shinkanzen ke kota ini. Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto menghabiskan sekitar ¥12.000. Tapi cukup menarik, kerna aku jadi sempat melirik Gunung Fuji nan terkenal akan bentuknya yang simetris menjulang itu. Shinkanzen memungkinkan Tokyo-Kyoto...

Visa Jepang

Visa Jepang

Harus aku akui: Jepang top. Dibandingkan negeri2 lain yang mengharuskan pengurusan visa atas kunjungan kita, pengurusan visa untuk Jepang adalah yang paling mudah. Di Indonesia, pengurusan visa ini dapat dilakukan di beberapa konsulat Jepang yang terdapat di Jakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, dan Medan; sesuai wilayah tugas konsulat masing-masing. Tentu kita harus menyiapkan beberapa dokumen. Untuk aku yang pergi untuk urusan “bisnis” :), dokumen yang disiapkan adalah: Paspor, asli Formulir permohonan visa Download formulir di sini: PDF Dilengkapi pasfoto (ukuran 4,5 × 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar) Fotokopi KTP (Surat Keterangan Domisili) Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (jika relevan) Bukti pemesanan...

Au Pays des Gaulois

Au Pays des Gaulois

Salah satu kesukaan yang tak sengaja dimulai adalah mengkoleksi buku Le Petit Prince dari Antoine de Saint-Exupéry dalam berbagai bahasa. Minggu lalu masuk koleksi terakhirku: Ar Priñs Bihan, dalam bahasa Brezhhoneg, atau bahasa Breton, atau dalam bahasa yang mungkin kita lebih akrab: Bahasa Galia Celtic :). Sambil asik membacai bukunya (haha), aku tak sengaja tersadar: ini negeri yang sebenarnya cukup istimewa buat aku :). Beberapa rekan pernah bilang bahwa aku belum pernah beperjalanan ke luar Indonesia atas biaya Telkom. Tentu ini tidak benar. Justru perjalanan perdanaku ke luar Indonesia adalah atas perintah Telkom. Berempat, kami disuruh belajar transmisi pada core network di Lannion (Perancis) dan access network di Toledo (Spanyol). Air France...

Desember di Hong Kong

Desember di Hong Kong

Mungkin Desember bukan waktu yang pas buat jalan-jalan. Takda waktu untuk persiapan, takda waktu untuk menikmati sepenuhnya, takda waktu untuk bercerita sesudahnya. Tujuan jalan di awal Desember lalu adalah Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang kini menjadi wilayah otonomi khusus di bawah RRC. Aku hanya punya 2 hari untuk mempersiapkan perjalanan (termasuk persiapan presentasi di forum internasional Carrier Ethernet World di sana). Ini dua hari dengan beban kerja cukup tinggi; jadi aku benar2 tak memiliki persiapan memadai. Yang pertama dilakukan adalah memesan tiket pesawat. Aku langsung mencoba ke Garuda Indonesia. Namun Garuda menolak reservasi yang dilakukan kurang dari 72 jam sebelum keberangkatan. Menimbang alternatif lain, akhirnya aku...