Nihonjin

Nihonjin

Tulisan yang terlambat beberapa tahun. Tapi rasanya masih punya hutang kalau belum ditulis di sini. Plus nantinya beberapa versi buat negara lain. Jadi, ini kesan atas orang-orang di Jepang, dalam amatan bulan Juni 2011. Imigrasi Haneda Petugas imigrasi (cowok, usia sedang) benar-benar memeriksa di hotel mana aku akan menginap malam itu. Waktu itu, hampir tengah malam. Dan aku memutuskan menunggu Shinkanzen pagi di airport. Petugas menunjukkan ketidaksukaannya bahwa aku tidak mereservasi hotel buat tidur malam itu. Mungkin dia merasa aneh ada orang mau membuang 6 jam sia-sia di airport. Douane Haneda Petugas (cewek, usia sedang) menanyakan tujuan kunjungan. Aku sampaikan, aku akan menghadiri summit. Dia lihat jaket travelingku dan koper kecilku. Sopan, dia minta...

Miraikan The Future Museum

Miraikan The Future Museum

Ada yang sulit dimengerti dari buku Geek Atlas. Saat orang2 Inggris sibuk memasukkan banyak research centre dan science museum di berbagai kota ke dalam buku itu, orang Jepang malah memasukkan tempat shopping semacam Akihabara. Andai aku yang jadi koresponden Jepang, aku akan memasukkan setidaknya Science Museum di Chiyoda, dan The Future Museum di Odaiba. Aku sendiri cuma punya waktu singkat di Tokyo, dan atas rekomendasi seorang rekan hanya memilih mengunjungi Odaiba. Odaiba sendiri adalah pulau buatan di lepas Teluk Tokyo, dengan posisi seolah melindungi kota Tokyo dari berbagai ancaman dari laut. Pulau ini mulai dibuat di abad ke-19, namun mulai intens digunakan di akhir abad ke-20. Berbeda dengan Tokyo yang amat padat, suasana Odaiba sungguh lapang, dengan...

Haneda

Haneda

Travel blog itu tak mudah buat aku. Selama traveling, aku tak akan banyak membuang waktu untuk mencatat. Apalagi online. Tapi di ujung perjalanan, hutang tulisan (hutang ke diri sendiri) jadi menumpuk :). Dan karena blog bukan travel book, kita tak akan menuliskan seluruh experience kita juga — hanya beberapa highlight. Atau bikin buku sekalian? Wkwkwk. Daripada bikin buku jelek, mending gak usah ah :). OK. ini beberapa kesan yang aku coret sedikit dari travel ke Kyoto minggu lalu. Tak seperti traveler beneran, aku tak leluasa memilih waktu perjalanan. Ini adalah business trip tempat aku harus mempersiapkan laporan dan memberikan presentasi di tempat dan waktu yang sudah dijadwalkan. Jadi aku tak bebas memilih musim terbaik atau tarif termurah. Tak keduanya...

Tokyo E Iki Mas

Tokyo E Iki Mas

Weekend. Dan Kyoto station menampilkan wajah yang berbeda: tak terlalu banyak lagi gegas langkah2 panjang. Dengan langkah ringan aku memasuki ruang JR ticket sales untuk perjalanan ke Tokyo. Bercita2 melihat lagi Fujiyama, aku coba pesan reserved seat di posisi duduk dekat jendela kiri. Tapi posisi menarik itu telah penuh dipesan :). Jadi aku ambil tiket non-reservation yang lebih murah. Tiket seharga ¥12700 dicetak. Huh, semuanya huruf kanji. Arigato gozaimasta. Lincah aku bergerak ringan. Loh, ringan. Sial, luggageku tertinggal di sales desk. Balik lagi, senyum manis lagi, ambil luggage, arigato lagi. Lalu turun. Shinkanzen Hikari hampir masuk. Seorang gentleman agak senior menunjukiku peron khusus non-reservation dengan bahasa Inggris sempurna sekali. Hikari...

Kyoto & Nara

Kyoto & Nara

Negeri2 di Jepang mula2 dipersatukan sebagai federasi yang lemah pada abad ke-6. Baru di abad ke-8, kekaisaran yang kuat terbentuk dengan ibukota di Nara. Pemerintahan Nara harus berbagi kekuatan dengan bangsawan Fujiwara dan agamawan Buddha, sehingga harus berpindah ke Nagaoka selama 10 tahun, lalu akhirnya berpijak di Kyoto. Kaisar beristana di Kyoto selama 1000 tahun. Namun pemerintahan praktis dipegang oleh kekuatan militer samurai yang dipimpin shogun, yang tak selalu berpusat di Kyoto. Kekuasaan shogun terlama adalah dinasti shogun Tokugawa. Ini baru berakhir pada abad ke-19, saat AS memaksa membuka isolasi Jepang, dan shogun yang terkalahkan dijatuhkan sekelompok samurai dalam revolusi yang disebut Restorasi Meiji. Kaisar Mutsuhito yang masih muda...

Kyoto

Kyoto

Bumi bulat itu menarik, membuat banyak hal tak disangka. Di Indonesia, negara di Asia Timur di selatan khatulistiwa, orang mengarah kiblat ke barat agak utara. Tapi di Jepang, negara di Asia Timur, jauh di utara khatulistiwa, arah kiblat juga ke barat agak utara. Tampak tak logis dengan peta dua dimensi, tapi amat logis dilihat di bola dunia :). Hal ini yang terpikir saat aku akhirnya berhasil masuk ke kamarku di Righa Hotel, di tengah kota tua Kyoto, setelah perjalanan panjang via udara dari Jakarta, KL, Tokyo, disusul dengan Shinkanzen ke kota ini. Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto menghabiskan sekitar ¥12.000. Tapi cukup menarik, kerna aku jadi sempat melirik Gunung Fuji nan terkenal akan bentuknya yang simetris menjulang itu. Shinkanzen memungkinkan Tokyo-Kyoto...

Visa Jepang

Visa Jepang

Harus aku akui: Jepang top. Dibandingkan negeri2 lain yang mengharuskan pengurusan visa atas kunjungan kita, pengurusan visa untuk Jepang adalah yang paling mudah. Di Indonesia, pengurusan visa ini dapat dilakukan di beberapa konsulat Jepang yang terdapat di Jakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, dan Medan; sesuai wilayah tugas konsulat masing-masing. Tentu kita harus menyiapkan beberapa dokumen. Untuk aku yang pergi untuk urusan “bisnis” :), dokumen yang disiapkan adalah: Paspor, asli Formulir permohonan visa Download formulir di sini: PDF Dilengkapi pasfoto (ukuran 4,5 × 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar) Fotokopi KTP (Surat Keterangan Domisili) Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (jika relevan) Bukti pemesanan...

Desember di Hong Kong

Desember di Hong Kong

Mungkin Desember bukan waktu yang pas buat jalan-jalan. Takda waktu untuk persiapan, takda waktu untuk menikmati sepenuhnya, takda waktu untuk bercerita sesudahnya. Tujuan jalan di awal Desember lalu adalah Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang kini menjadi wilayah otonomi khusus di bawah RRC. Aku hanya punya 2 hari untuk mempersiapkan perjalanan (termasuk persiapan presentasi di forum internasional Carrier Ethernet World di sana). Ini dua hari dengan beban kerja cukup tinggi; jadi aku benar2 tak memiliki persiapan memadai. Yang pertama dilakukan adalah memesan tiket pesawat. Aku langsung mencoba ke Garuda Indonesia. Namun Garuda menolak reservasi yang dilakukan kurang dari 72 jam sebelum keberangkatan. Menimbang alternatif lain, akhirnya aku...

Taipei

Taipei

Biasanya penerbangan pilihanku tak jauh dari Garuda Indonesia dan Air Asia. Kebetulan perjalanan ke Taipei ini dibiayai oleh organiser; jadi tentu Garuda Indonesia jadi pilihan pertama. Sayangnya, Garuda belum memiliki penerbangan langsung ke Taipei. Alih2, dia menawarkan partner airline-nya, yaitu China Airline. Jujur, aku nggak tahu ini punya Cina yang mana. Tapi yang jelas, jadwal yang dia berikan nggak ada yang match. Jadi aku balik ke jalur online. Coba Air Asia, nggak ada jadwal yan genak juga. Harus menginap semalam di Kualalumpur. Mengincar Tunes Hotel, penuh pada malam itu. Kebayang kesulitan cari hotel kayak zaman Eyjafjallajokull itu. Akhirnya, ambil pilihan berikutnya: Singapore Airline. Kali ini jadwalnya agak pas. Transit di Singapore. OK juga....

Visa Taiwan

Bulan depan ini tugas yang menanti adalah menjadi presenter di 4G International Forum di Taipei. Taiwan (Republic of China) bukan seperti negara2 ASEAN yang memberikan fasilitas bebas visa kepada warga Indonesia. Maka, di samping harus menyusun presentasi dan menyiapkan tiket2, aku harus mengurus visa juga. Visa Taiwan bisa diurus di Taipei Economic and Trade Office Jakarta. Berikut alamatnya: Taipei Economic and Trade Office 12th Floor Gedung Artha Graha Jl Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 Indonesia Phone: +62-21-515-1111 Aku baru menelefon kantor TETO. Ni hao :). Syarat-syarat mengurus visa adalah: Mengambil dan mengisi formulir yang disediakan di kantor TETO Membawa passport yang berlaku setidaknya hingga 6 bulan ke depan, plus passport sebelumnya...