Berlin

Berlin

Berlin dingin dan berangin, membuat aku lupa bahwa baru beberapa hari sebelumnya aku tersengat matahari di London dan Paris. Hampir dua minggu berjalan kaki dengan lutut cedera, bikin aku agak manja. Dari terminal bis, aku memilih naik taksi ke Hotel Altberlin di kawasan Potsdamer Platz di pusat kota Berlin. Dan kayaknya, selama di Euro Area ini, selain dari Vienna Airport, aku selalu bayar taksi sebesar €15. Hotel Altberlin bergaya klasik, tapi bukan yang bergaya keren kayak Lohmühle di Bayreuth. Kesannya malah kekar dan angker, mirip peninggalan zaman perang. Ah, tapi memang sejarah Jerman sebelum reunifikasi selalu berisi perang; dari penyatuan Jerman, PD I, PD II, hingga Perang Dingin. Brrrr. Hal2 ini tampaknya membuat penduduk Jerman masa kini lebih bergaya...

UEFA Euro 2012

UEFA Euro 2012

Wow! Ternyata, dari 5 negara yang kami kunjungi dalam sesi Europe 2012, empat di antaranya masuk Perempat Final dalam UEFA Euro 2012! Kejutan memang terjadi pada Ceska, yang sempat kalah 1-4 dari Russia di awal kompetisi; tapi ia cepat mengejar ketinggalan dengan mengalahkan Polandia, sementara Russia justru kalah melawan Yunani. Satu negara lagi, Austria, malah tidak lolos kualifikasi untuk Euro 2012. Well, on ne peut pas bon en tout. Tapi, kata taxi driver di Wina sendiri: “Rakyat kami memang lebih suka musik dan menyanyi daripada sepakbola.” Wkwkwk. Masa...

Bayreuth

Bayreuth

Dresden sebenarnya merupakan kota bersejarah yang masih berkait dengan kota2 tujuan perjalanan sesi ini. Dresden pernah menjadi tempat tinggal Wagner selama beberapa tahun. Tannhauser dan Die Fliegende Hollander disusun di sini. Namun kemudian Wagner melibatkan diri sebagai salah satu pemimpin dalam pemberontakan kaum anarkis di tahun 1849, yang kemudian ditumpas tentara Prussia. Peristiwa ini membuat Wagner kehilangan karir, menjadi buron, dan hidup berpindah2 dalam tahun2 berikutnya: Paris, Zurich, dst. Selama hidup serba kekurangan dalam pengasingan, Wagner justru dapat menyelesaikan sebagian besar dari karya agungnya: tetralogi opera Der Ring Des Nibelungen, serta Tristan & Isolde. Karya2 ini sering digunakan sebagai contoh mereka yang berkarya benar2...

Wien

Wien

Dari pesawat Vuelling, aku bisa menikmati pemandangan pegunungan Alpen yang puncak dan lerengnya masih dipenuhi garis-garis salju di akhir musim semi ini. Namun tak lama pesawat mulai merendah, dan pemandangan berubah menjadi padang2 dan ladang hijau yang luas, diselingi kota2 dan desa2 kecil. Lalu pesawat mendarat di Flughafen Wien — Bandara Wina. Wien, Vienna, Vienne, atau biarlah kutulis versi Indonesianya: Wina. Ibukota Austria ini ada di timur laut negara; berada tak jauh dari kota Bratislava yang merupakan ibukota Slovenska. Mendarat di sini, aku berharap mudah2an orang Austria mau berbahasa Inggris. Aku nggak bisa bahasa Jerman sepicing pun :D. Tapi harapanku terlaksana. Maklumat di Wina ditulis atau dilantunkan dwibahasa, dan nyaris semua warga...

Praha

Praha

Kereta api dari dan ke Praha secara unik dinamai menurut para seniman dan komposer. Kereta dari Wina ke Praha pukul 14:33 itu berjudul Smetana. Serasa jadi mendengar simfoni Ma Vlast dari Bedrich Smetana yang mengantar ke Sungai Vltava. Melintas perbatasan, kereta memasuki kota Breclav, Brno, Ceska Trebova, lalu berbelok ke barat, melintasi ladang di samping bukit yang berkelok — seragam tapi tak membosankan. Akhirnya masuk ke kota Praha. Konon di bagian baru kota Praha, banyak orang2 usil. Tapi orang usil tak kurang banyak di Jakarta. Jadi buat kita tentu ini bukan masalah. Pertama, aku tidak menukarkan Euro sisa Austria ke Korun; tapi alih2 langsung ambil uang Korun (Kc atau CZK) di ATM. Kedua, aku bawa daftar taksi yang terpercaya. Tapi sayangnya...

Paris

Paris

Petugas imigrasi di stasiun St Pancras itu betul-betul salinan dari prototype petugas Perancis: setengah baya, tirus, serius, bertopi kaku, menatap tajam tanpa emosi, lalu memberikan stempel pada passport di sebelah visa Schengen. Lalu kereta meninggalkan London, dan dalam dua jam memasuki Paris Gare du Nord. Gare du Nord besar, dan indah dari luar. Tapi dari dalam, sesak dan tak teratur. Aku segera keluar. Hotelku hanya 1 km dari stasiun ini. Jadi kami memutuskan berjalan kaki ke hotel di kawasan Montmartre itu. Sempat harus bertanya2 ke orang2 di jalan. Syukur, kemampuan Bahasa Perancis-ku yang cuma sampai Level 2 masih bisa digunakan sekedar buat bertanya jalan. Berminat melihat Eiffel menantang matahari senja, aku memutuskan naik taksi. Tak jauh, jadi...

Euro 2012 Plan

Euro 2012 Plan

Pertengahan tahun ini, kami berencana ke Eropa. Karena kami sudah meluangkan lebih dari seminggu di Inggris Raya di tahun 2010, seharusnya kami tidak perlu lagi mengunjungi negeri keren ini. Tapi ternyata tupai-tupai di Greenwich masih kangen melihat kami. Jadi akhirnya kami justru akan memulai petualangan Eropa ini di kota London. Tentu artinya jatah berkeliling Eropa terpotong sedikit. Minggu pertama akan kami habiskan di Inggris dan Perancis. Inggris akan difokuskan di kota London dan kota-kota kecil di sekitarnya saja. Kota yang kami pilih adalah Oxford, Bath, atau Cambridge. Mungkin tak lagi mengunjungi Coventry tahun ini. Sebagai travgeek, kami akan berfokus ke hal-hal yang jadi minat utama kami: sains, filosofi, dan sejarah di sekitarnya. Museum of Natural...

Au Pays des Gaulois

Au Pays des Gaulois

Salah satu kesukaan yang tak sengaja dimulai adalah mengkoleksi buku Le Petit Prince dari Antoine de Saint-Exupéry dalam berbagai bahasa. Minggu lalu masuk koleksi terakhirku: Ar Priñs Bihan, dalam bahasa Brezhhoneg, atau bahasa Breton, atau dalam bahasa yang mungkin kita lebih akrab: Bahasa Galia Celtic :). Sambil asik membacai bukunya (haha), aku tak sengaja tersadar: ini negeri yang sebenarnya cukup istimewa buat aku :). Beberapa rekan pernah bilang bahwa aku belum pernah beperjalanan ke luar Indonesia atas biaya Telkom. Tentu ini tidak benar. Justru perjalanan perdanaku ke luar Indonesia adalah atas perintah Telkom. Berempat, kami disuruh belajar transmisi pada core network di Lannion (Perancis) dan access network di Toledo (Spanyol). Air France...

Un Weekend à Paris

Sebelum ada blog, aku sudah memulai blog secara offline. Salah satu blog lebih mirip tumblelog: dengan tempel2an peta, kliping berita, tiket, dll. Kebetulan itu adalah blog (eh agenda) di tahun di mana aku pertama kali boleh jalan ke luar Indonesia. Dua minggu aku di Eropa: seminggu di Perancis (Lannion & Paris) dan seminggu di Spanyol (Madrid & Tolédo). Di bawah ini adalah catatan weekend yang memisahkan minggu Perancis dengan minggu Spanyol. Pesawat TAT yang terus berguncang ini akhirnya mendarat di Orly. Kita meneruskan perjalanan dengan bis ke Paris. Vendredi soir, trafik di kota Paris padat sekali, termasuk di lorong-lorong bawah tanahnya. Aku diinapkan di Hotel Ibis Clichy, daerah Montmartre, dengan sewa per kamar 495 F/night, dengan tempat tidur...